Harga emas di pasar global mencatat lonjakan signifikan di atas 3% pada penutupan perdagangan Kamis, 11 Juni 2026.

Pergerakan positif ini dipicu oleh keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang membatalkan rencana aksi militer terhadap Iran.

>>> Afrika Selatan Tumbang 0-2 dari Meksiko di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Langkah pembatalan tersebut seketika meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi lonjakan harga minyak.

Risiko inflasi tinggi yang dapat memaksa bank sentral menahan suku bunga acuan di level tinggi dalam waktu lama pun ikut menyusut.

Pada pasar spot, harga emas ditutup melesat sebesar 3,42% menjadi US$ 4.210,89 per ons troi.

Nilai ini melambung setelah logam mulia tersebut sempat merosot ke titik terendah sejak akhir November 2025.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus berakhir menguat 2,43% di posisi US$ 4.233,65 per ons troi.

Donald Trump menyatakan pembatalan operasi militer itu hanya berselang beberapa jam setelah dirinya melontarkan ancaman keras.

Sebelumnya, ia berniat meningkatkan agresi dengan membidik Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak utama Iran.

Menurut penjelasan Trump, kesepakatan baru potensial ini telah disetujui poin utamanya oleh sejumlah negara pendukung.

Pihak-pihak tersebut meliputi AS, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Turki, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, Mesir, serta beberapa negara mitra lainnya.

"Pasar sudah beberapa kali melihat kabar mengenai potensi kesepakatan, tetapi belum pernah benar-benar terwujud.

Namun jika kali ini benar terjadi, hal itu dapat membantu harga emas bangkit dari level terendahnya," kata Strategis Komoditas TD Securities Ryan McKay.

Tekanan besar sebetulnya terus membayangi pergerakan emas sejak perseteruan bersenjata antara AS-Israel melawan Iran meletus pada akhir Februari.