Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Kamis. Pasar merespons meredanya kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah setelah Donald Trump membatalkan rencana serangan ke Iran.

Minyak mentah Brent ditutup turun US$ 2,72 atau 2,9% ke posisi US$ 90,38 per barel.

>>> AS Luncurkan Serangan Udara Baru ke Iran, Trump Tuduh Teheran Mengulur Waktu

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 2,32 atau 2,6% ke level US$ 87,71 per barel.

Sebelumnya, pasar sempat memanas akibat ancaman serangan Trump terhadap Iran.

Namun, Trump mengumumkan melalui media sosial bahwa rencana aksi militer dibatalkan karena dialog damai diklaim telah mencapai tingkat tertinggi.

Trump menyebut pembicaraan tersebut mendapat dukungan koalisi negara-negara Timur Tengah. Meski demikian, ia tidak merinci poin-poin kesepakatan yang diklaim telah disetujui.

Di sisi lain, kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa Teheran belum menyetujui draf perjanjian apa pun. Perbedaan informasi ini membuat pelaku pasar tetap waspada.

Sikap hati-hati dipicu oleh rekam jejak Trump yang kerap mengklaim kesepakatan damai sudah dekat, namun kemudian berbalik melayangkan ancaman.

Bahkan, sebelum pembatalan, Trump sempat menyatakan kesiapan menghantam Iran dengan keras.

Namun, sumber internal Iran dan pejabat Barat mengonfirmasi negosiasi tidak langsung terkait kesepakatan damai sementara memang berjalan intensif.

Fluktuasi harga minyak juga dipengaruhi dinamika di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang mendistribusikan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

>>> Igor Tolic Sambut Positif Keikutsertaan Persib Bandung di ASEAN Club Championship

Iran sempat mengumumkan penutupan selat bagi kapal tanker dan kapal komersial pada Rabu (10/6).

Teheran memberikan peringatan tegas bahwa kapal yang nekat melintas akan menjadi sasaran tembak. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas agresi militer AS dan Israel sejak akhir Februari.