Pasangan suami istri yang menghadapi kendala kesuburan atau infertilitas disarankan untuk menjalani pemeriksaan medis secara berbarengan. Langkah ini bertujuan memetakan kondisi fisik secara objektif guna mengetahui akar persoalan.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari Jakarta Gynecology Center (JGC) di Brawijaya Hospital Antasari, dr. med. Firman Santoso, Sp.

>>> Kepala BGN Jadwalkan Ulang Laporan Efisiensi MBG ke Presiden

OG, menjelaskan konsep infertilitas primer dalam acara Brawijaya Hospital Partner Gathering di Jakarta Selatan pada Kamis (11/6/2026).

"Kita mengenal ada yang namanya primary infertility," kata dr. med. Firman Santoso, Sp.

OG. Infertilitas primer merujuk pada kondisi pasangan yang belum berhasil memiliki anak setelah periode waktu tertentu.

"Artinya, suatu pasangan ini sudah mencoba untuk hamil selama satu tahun full tanpa adanya intervensi daripada kontrasepsi, tapi masih tidak berhasil," lanjutnya.

Faktor penyebab ketidakmampuan untuk hamil terbagi rata antara pihak pria dan wanita. Sisanya merupakan kasus yang tidak dapat dijelaskan.

"Kalau seorang couple itu tidak bisa hamil, kan 40 persen dari sisi pria, 40 persen dari sisi wanita.

20 persen itu unexplained, artinya dua-duanya bagus tapi kok masih bisa tidak hamil," ucap dr. med. Firman Santoso, Sp.

OG.

Pada pihak perempuan, evaluasi dasar meliputi pola siklus menstruasi, pemeriksaan ultrasonografi untuk mendeteksi kista, miom, atau adenomiosis, serta pemeriksaan profil hormonal dan saluran tuba falopi.

Sementara itu, pihak laki-laki berfokus pada analisis sperma.

"Pada sisi pria, kita harus melakukan yang namanya sperm analysis. Jadi kita melihat kualitas spermanya.

Jumlahnya, volumenya, kecepatan bergeraknya, bentuk normal dan abnormalnya," jelas dr. med. Firman Santoso, Sp.

OG.