Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi menerima mahasiswa angkatan pertama Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Program ini terdiri dari dua studi, yaitu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) serta Obstetri dan Ginekologi (Obgyn).

>>> Surabaya dan Bandung Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026

Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono menegaskan bahwa penyelenggaraan PPDS merupakan amanah dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Kementerian Kesehatan.

"Kepercayaan ini harus kami jalankan dengan penuh tanggung jawab," ujarnya saat mengukuhkan 10 mahasiswa PPDS angkatan pertama, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, pembukaan PPDS Paru dan Obgyn mendukung program pemerintah dalam mempercepat pemenuhan dan pemerataan dokter spesialis di Indonesia.

Unusa tidak hanya fokus pada kualitas pendidikan, tetapi juga memastikan lulusannya kembali mengabdi di daerah asal.

Seluruh mahasiswa angkatan pertama telah menandatangani surat pernyataan untuk kembali bertugas di instansi atau daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan.

Dengan demikian, PPDS Unusa diharapkan memberikan dampak nyata pada pemerataan layanan kesehatan, khususnya di Jawa Timur.

Tolak Keras Perploncoan

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Tri Yogi menegaskan bahwa Unusa menolak keras budaya perploncoan atau segala tindak kekerasan di lingkungan pendidikan.

"Saya tidak akan mentoleransi segala tindakan kekerasan. Kami sudah memiliki satuan tugas PPKPT yang siaga," tegasnya.

Sebagai angkatan pertama, mahasiswa PPDS Unusa memiliki tanggung jawab membangun budaya yang baik. Hal ini mengingat maraknya kasus perploncoan dalam PPDS di berbagai tempat.

>>> Orang Tua di Indonesia Makin Gencar Kenalkan Bahasa Asing pada Anak Sejak Dini

Dekan Fakultas Kedokteran Unusa Prof. Budi Santoso menjelaskan bahwa mahasiswa angkatan pertama berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur, termasuk dari wilayah kepulauan seperti Masalembu.