Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran setelah sejumlah kapal komersial di Selat Hormuz dilaporkan terkena serangan pada Selasa (7/7).

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan "serangkaian serangan dahsyat" terhadap Iran sebagai hukuman atas penargetan kapal-kapal komersial yang diawaki warga sipil.

>>> OJK: 81 BPR dan BPRS Digabung Jadi 24 Hingga Juni 2026

Serangan ini merupakan respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. CENTCOM menyebut agresi Iran tidak beralasan dan melanggar gencatan senjata.

Sebuah video yang beredar di media sosial dan diverifikasi NBC News menunjukkan beberapa ledakan terjadi di sebuah pelabuhan di Kota Bandar Abbas, Iran selatan.

Kantor berita pemerintah Iran, Press TV, melaporkan ledakan terdengar di Pelabuhan Sirik serta Pulau Qeshm.

Mengapa Sirik dan Qeshm Menjadi Target?

Menurut seorang pejabat AS, militer Washington menargetkan pertahanan udara, lokasi pengawasan pantai, rudal permukaan-ke-udara, rudal jelajah anti-kapal, lokasi peluncuran drone, dan fasilitas pelabuhan.

Serangan dilakukan menggunakan jet Angkatan Udara dan pesawat taktis Angkatan Laut AS.

Berdasarkan laporan Press TV, proyektil menghantam dermaga komersial di Sirik, dermaga perikanan di desa Ziarat, serta kapal-kapal nelayan di Bandar Abbas.

Stasiun televisi IRIB mengabarkan menara telekomunikasi di Bandar Abbas juga menjadi sasaran.

Bandar Abbas merupakan markas utama angkatan laut Iran di utara Selat Hormuz, menjadikannya pusat militer untuk mengawasi selat tersebut.

>>> Persib Tunda Latihan Perdana karena Pemain Sakit dan Kendala Penerbangan

Sejak gencatan senjata pada 8 April, Iran mengendalikan pelayaran kapal tanker di Selat Hormuz, sementara AS memberlakukan blokade di Bandar Abbas untuk menghentikan ekspor minyak Iran.