PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan bisnis. Hal ini didukung oleh kontrak jasa pertambangan jangka panjang dengan sejumlah perusahaan tambang besar.

Model bisnis tersebut memberikan visibilitas pendapatan yang lebih baik. Selain itu, mampu menopang kinerja perseroan dalam jangka menengah hingga panjang.

>>> PIK2 Paparkan Perkembangan Strategis Kawasan dan Kinerja Keuangan

Analis pasar modal Daksanaya Manajemen, Pardomuan Sihombing mengatakan, MINE beroperasi bersama perusahaan tambang yang memiliki cadangan besar dan umur tambang panjang.

Kondisi ini membuat prospek bisnis perusahaan lebih terukur dibandingkan emiten yang bergantung pada proyek jangka pendek.

"Karakteristik kontrak jasa pertambangan yang berlangsung dalam periode multi-tahun memberikan kepastian pendapatan yang lebih baik.

Selama kontraktor mampu memenuhi target produksi dan menjaga standar keselamatan, peluang perpanjangan kontrak tetap terbuka," ujar Pardomuan dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).

Di sisi lain, perseroan juga melihat rekam jejak operasional sebagai faktor penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis.

Direktur Operasional MINE, Ade Irawan mengatakan perusahaan terus menjaga disiplin operasional, termasuk dalam penerapan standar keselamatan kerja, guna mempertahankan kepercayaan pelanggan.

"Perusahaan tambang tidak hanya melihat kemampuan produksi, tetapi juga aspek keselamatan, keandalan operasional, dan komitmen dalam menjalankan pekerjaan.

Faktor-faktor tersebut menjadi dasar keberlanjutan kerja sama jangka panjang," ujar Ade.

>>> Google Rilis DiffusionGemma, Model AI Open-Source dengan Pemrosesan Paralel

Menurut Pardomuan, kemampuan menjaga kualitas operasional tersebut dapat menjadi modal bagi MINE untuk memperluas layanan ke komoditas pertambangan lainnya.

Perseroan sebelumnya juga membuka peluang diversifikasi bisnis di luar komoditas nikel sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru.

Dari sisi kinerja, MINE membukukan pendapatan sebesar Rp 676,19 miliar pada kuartal I-2026 atau tumbuh 18,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara laba komprehensif tercatat sebesar Rp 61,63 miliar.

Segmen jasa penambangan masih menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 89,9% terhadap total pendapatan perseroan.

Kinerja tersebut menunjukkan aktivitas operasional perusahaan masih tumbuh di tengah dinamika industri pertambangan.

Pardomuan menilai, di tengah volatilitas pasar saat ini, investor cenderung kembali mencermati emiten yang memiliki fundamental kuat dan prospek bisnis yang jelas.

>>> Mendagri Usulkan Insentif Khusus Kepala Daerah untuk Cegah Korupsi

"Fundamental yang sehat serta keberlanjutan kontrak usaha menjadi faktor yang penting untuk diperhatikan investor dalam melihat prospek jangka panjang suatu perusahaan," katanya.