Hancock Prospecting milik miliuner tambang Gina Rinehart dilaporkan telah mengambil saham di SpaceX senilai lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp 22 triliun.

Langkah ini terjadi setelah perusahaan roket milik Elon Musk itu menyelesaikan penawaran umum perdana (IPO) yang memecahkan rekor.

>>> Fans Manfaatkan Microsoft Rewards untuk Pre-order GTA 6 Ultimate Edition Gratis

Menurut Reuters, SpaceX mengumpulkan dana US$75 miliar dengan harga saham US$135, menempatkan valuasi perusahaan di angka US$1,77 triliun.

Diversifikasi Tambang ke Antariksa

Hancock Prospecting menyebut investasi ini sebagai langkah paling berani di luar bijih besi.

Dalam pernyataan resmi, perusahaan menyatakan keyakinan pada kepemimpinan Musk dan pentingnya negara Barat terus memimpin dalam teknologi dan inovasi.

Hancock menyebut SpaceX sebagai "salah satu perusahaan yang mendefinisikan abad ke-21" dan IPO-nya sebagai yang terbesar dalam sejarah.

Meski tidak mengonfirmasi jumlah pasti saham, Reuters melaporkan bahwa Rinehart mengambil porsi lebih dari US$1 miliar.

Hancock juga mengaku senang mendapat alokasi dalam IPO yang digambarkan Rinehart sebagai "sangat populer dan kelebihan permintaan".

Mineral Kritis Jadi Kunci

Investasi ini menghubungkan tiga dunia yang biasanya dibahas terpisah: pertambangan, kecerdasan buatan (AI), dan infrastruktur antariksa.

Satelit, chip, baterai, dan sistem peluncuran semuanya bergantung pada bahan baku yang harus ditambang dan diproses.

Reuters melaporkan bahwa Hancock adalah investor signifikan dalam proyek mineral kritis dan melihat kemungkinan hubungan pasokan dengan SpaceX.

Dengan investasi ini, Rinehart memposisikan perusahaannya di persimpangan rantai pasok mineral kritis dan teknologi kedirgantaraan.

CEO Hancock, Garry Korte, juga menyebut kemungkinan kerja sama masa depan terkait mineral kritis dan kebutuhan infrastruktur.

SpaceX kini tidak hanya soal roket, tetapi juga internet satelit, komunikasi pertahanan, dan infrastruktur AI.