>>> Haji Bolot Dirawat di Rumah Sakit, Kondisinya Masih Dipantau Tim Medis

Sebelumnya, data menunjukkan inflasi konsumen AS pada Mei meningkat dengan laju tercepat dalam tiga tahun terakhir akibat lonjakan harga energi di tengah konflik Timur Tengah.

Kondisi ini membuat pasar memproyeksikan bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini melihat adanya peluang lebih dari 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah militer AS melancarkan serangan baru terhadap sejumlah target di Iran.

Serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengancam akan meningkatkan aksi militer jika kesepakatan damai dengan Teheran tidak segera tercapai.

Sebagai respons, pihak Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi global.

Langkah penutupan jalur tersebut langsung mendorong harga minyak dunia melonjak lebih dari US$ 2 per barel pada perdagangan Kamis.

Kenaikan harga minyak berpotensi mempercepat inflasi global, namun prospek suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil.

Untuk pergerakan logam mulia lainnya, harga perak spot tercatat turun tipis 0,1% menjadi US$ 63,64 per ons troi.

>>> PT Citra Borneo Utama Tbk Targetkan Pendapatan Rp23,43 Triliun pada 2026

Harga platinum bergerak stabil di level US$ 1.663,80 per ons troi, sementara harga paladium melonjak signifikan sebesar 2,3% menjadi US$ 1.241,77 per ons troi.