APPI: Kenaikan BI Rate Hanya Berdampak pada Nasabah Baru
Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menilai kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate tidak akan memberikan tekanan mendalam bagi industri pembiayaan.
Kebijakan moneter ini diprediksi lebih memengaruhi penyesuaian bunga bagi calon konsumen baru.
>>> Inggris, Australia, dan Kanada Kucurkan Dana Perdamaian Israel-Palestina
Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada Selasa, 9 Juni 2026.
Langkah ini ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah dan menahan laju inflasi.
Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno menjelaskan bahwa perubahan suku bunga acuan tidak akan mengubah beban kontrak pembiayaan yang sedang berjalan.
"Ini kan sebenarnya dampaknya enggak kepada kredit yang berjalan, kepada nanti nasabah yang baru mau kredit," ujarnya.
Menurut Suwandi, calon debitur baru akan menghadapi penyesuaian bunga yang tidak bisa sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Oleh karena itu, para calon debitur diimbau untuk meningkatkan kehati-hatian sebelum mengajukan pinjaman baru agar kelancaran pembayaran cicilan tetap terjaga.
>>> Harga Emas Domestik India 10 Juni 2026 Anjlok ke Level Terendah
Di sisi lain, peningkatan BI Rate tidak secara otomatis menahan korporasi multifinance dalam menerbitkan surat utang.
Suwandi menambahkan bahwa pemenuhan likuiditas atau pendanaan eksternal akan bergantung pada strategi dan kalkulasi masing-masing perusahaan pembiayaan.
"Kan kita mesti pinjam uang melalui obligasi atau bank. Ya harus diputuskan, nanti pada saat mau ngambil lebih baik pinjam dari bank atau dari obligasi.
Kalau biasa nerbitin obligasi ya disesuaikan dengan bunga yang baru. Jadi ya itu masing-masing memutuskan sendiri," tutur Suwandi.
Secara makro, Bank Indonesia memandang eskalasi BI Rate sebagai instrumen penting di tengah dinamika keuangan global.
Langkah ini bertujuan memitigasi risiko keluarnya modal asing dan memperkuat daya tarik pasar domestik.
>>> FIFA Tanggapi Penolakan Wasit Somalia Masuk AS
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan, "Bank Indonesia memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing."
Update Terbaru
Permintaan Maaf Jaksa Agung atas Kasus Febrie: Momentum Pembenahan Internal
Minggu / 26-07-2026, 20:08 WIB
Kuasa Hukum Ruben Onsu Bantah Klaim Sarwendah Soal Harta Gono-gini Bermasalah
Minggu / 26-07-2026, 20:08 WIB
Evakuasi Massal di Prancis Akibat Kebakaran Hutan Mendekati Bordeaux
Minggu / 26-07-2026, 20:00 WIB
Nadeo Targetkan Juara di Piala AFF 2026 yang Spesial
Minggu / 26-07-2026, 20:00 WIB
Grandy Prajayakti Mundur dari Jabatan Direktur RANS Entertainment
Minggu / 26-07-2026, 19:56 WIB
Iran Protes Keras ke Ukraina atas Serangan Kapal di Laut Kaspia yang Tewaskan Pelaut
Minggu / 26-07-2026, 19:56 WIB
Persija Pastikan Shin Tae Yong Tidak Dihukum 10 Tahun oleh KFA
Minggu / 26-07-2026, 19:56 WIB
Keributan di Menteng Jakarta Pusat Tewaskan Satu Orang
Minggu / 26-07-2026, 19:50 WIB
Kondisi Marselino Ferdinan Dipantau Jelang Laga Indonesia vs Kamboja
Minggu / 26-07-2026, 19:49 WIB
Gen Z India Bentuk 'Partai Kecoak' Protes Kebocoran Ujian, Menteri Pendidikan Mundur
Minggu / 26-07-2026, 19:49 WIB
Trofi Piala AFF 2026 Dipamerkan, Timnas Indonesia Berambisi Akhiri Puasa Gelar
Minggu / 26-07-2026, 19:43 WIB
Cara dan Jadwal Pencairan PIP 2026: Cek Status Penerima via HP
Minggu / 26-07-2026, 19:42 WIB
Sinopsis dan Pemain Drama China The Eternal Fragrance Sub Indo, Dibintangi Song Weilong
Minggu / 26-07-2026, 19:37 WIB
6 Cara Membangunkan Anak Tanpa Drama di Pagi Hari
Minggu / 26-07-2026, 19:36 WIB







