Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Umar bin Khattab RA pernah menangis ketika melihat keadaan rumah Rasulullah SAW.

Saat itu Nabi sedang berbaring di atas tikar kasar yang meninggalkan bekas pada tubuh beliau.

Tempat tinggal Nabi Muhammad SAW sangat sederhana tanpa perabot mewah, bahkan persediaan makanan pun terkadang sangat terbatas.

Meski demikian, kehidupan keluarga Rasulullah SAW selalu dipenuhi oleh ketenangan, cinta, dan keberkahan.

Dalam buku Fiqh As-Sirah karya Muhammad Al-Ghazali dijelaskan bahwa kekuatan keluarga Nabi terletak pada kokohnya hubungan mereka dengan Allah SWT.

Rumah beliau menjadi pusat ibadah, ilmu, kasih sayang, dan akhlak mulia, sehingga ulama menyebutnya sebagai gambaran surga di dunia.

Peran Setiap Anggota Keluarga

Allah SWT menggambarkan bahwa ketenteraman keluarga berasal dari karunia-Nya melalui firman-Nya dalam Surat Ar-Rum ayat 21.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa tujuan utama pernikahan adalah menghadirkan ketenangan jiwa, bukan sekadar membangun ikatan sosial.

Dalam tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan kata sakinah mengandung makna kedamaian mendalam saat seseorang merasa aman, nyaman, dan tenteram bersama keluarganya.

Ketenangan ini tidak dapat dibeli dengan uang karena lahir dari iman, akhlak, dan hubungan yang baik dengan Allah SWT.

>>> MUI Anjurkan Umat Islam Perbanyak Amal Saleh di Bulan Muharram

Islam memberikan tanggung jawab besar kepada suami sebagai pemimpin keluarga untuk dijalankan dengan keadilan dan kasih sayang.

Al-Qur'an mengabadikan kisah Nabi Ismail AS yang senantiasa membimbing keluarganya dalam beribadah melalui firman-Nya dalam QS Maryam ayat 55.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi menjelaskan pemimpin keluarga bertanggung jawab memenuhi kebutuhan duniawi sekaligus kebutuhan agama anggota keluarganya.