Tingkat kelebihan permintaan atau oversubscription untuk penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX dilaporkan melonjak signifikan.

Antusiasme pasar modal global membuat pesanan yang masuk melambung sekitar 3,5 hingga 4 kali lipat dari ukuran penawaran yang sudah direncanakan.

>>> Saham BBRI Melonjak 7,72 Persen Meski Asing Catat Net Sell

Perusahaan teknologi kedirgantaraan milik Elon Musk ini awalnya hanya berencana menghimpun dana segar sekitar US$75 miliar atau setara Rp1.346 triliun.

Nilai tersebut menjadikan aksi korporasi ini sebagai salah satu penggalangan dana terbesar dalam sejarah pasar saham.

Kondisi oversubscribed mencerminkan situasi ketika jumlah permintaan saham dari calon investor jauh melampaui total lembar saham yang disediakan perusahaan.

Fenomena tersebut kerap menjadi indikator kuat tingginya daya tarik pasar terhadap korporasi.

Meski demikian, lonjakan permintaan di awal tidak menjadi jaminan mutlak bahwa kinerja harga saham akan terus positif setelah resmi diperdagangkan.

Angka oversubscription cenderung merefleksikan optimisme terhadap proyeksi bisnis dan ekspektasi pertumbuhan jangka panjang.

Dua Motor Pertumbuhan SpaceX

Dokumen pemasaran yang disebarkan kepada investor menunjukkan dua lini bisnis utama menjadi motor penggerak pertumbuhan SpaceX.

Sektor pertama adalah bisnis peluncuran wahana antariksa yang mendominasi pengiriman muatan logistik ke orbit bumi.

>>> BPJS Kesehatan Tanggung Klaim Penyakit Katastropik Rp17,39 Triliun

Sektor kedua adalah Starlink, layanan jaringan internet berbasis satelit yang terus memperluas jangkauan konektivitas ke berbagai belahan dunia.

Selain itu, SpaceX juga mulai memperkenalkan peta jalan jangka panjang yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI).

Manajemen perusahaan memperkirakan kebutuhan daya komputasi untuk AI akan terus melonjak, membuka peluang ceruk pasar baru bernilai hingga US$23 triliun di masa depan.