Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026.

Mata uang Garuda bertengger di level Rp 18.058 per dolar AS, menguat 129 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 18.187.

>>> Pengembang Tiongkok Jual Apartemen Lantai 34 pada Gedung 32 Lantai

Sepanjang sesi perdagangan, rupiah sempat menyentuh penguatan hingga 150 poin.

Faktor Internal dan Eksternal Dorong Penguatan

Dari dalam negeri, langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% menjadi katalis positif.

Pemerintah juga memberikan sinyal akan menyiapkan paket stimulus ekonomi baru untuk menjaga daya beli masyarakat.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan positif ini juga dipicu meredanya tekanan sentimen eksternal terkait konflik di Timur Tengah.

>>> Kementerian ESDM Resmikan Operasional Pipa Gas Cisem II

"Sentimen pasar membaik setelah Iran dan Israel mengatakan telah menghentikan serangan satu sama lain," ungkap Ibrahim.

Meski menguat, rupiah masih dibayangi lonjakan inflasi AS akibat tingginya biaya energi.

Pasar khawatir inflasi yang didorong energi tetap tinggi, sehingga mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve.

>>> Indosat Integrasikan AI ke Jaringan 5G untuk Perluas Akses ke Desa

Pelaku pasar kini menanti data Indeks Harga Konsumen AS untuk Mei 2026 yang diproyeksikan naik 4,2% secara tahunan.