PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) mengantisipasi dampak rencana Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan meningkatkan yield investasi instrumen dalam negeri untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Kebijakan penyesuaian imbal hasil tersebut membawa konsekuensi berbeda bagi portofolio perusahaan dalam jangka pendek dan jangka panjang.

>>> Markas Timnas Inggris di Florida Diguncang Gempa Jelang Laga Kontra Kosta Rika

President Director Ciputra Life Hengky Djojosantoso menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, kenaikan yield obligasi akan diikuti oleh penurunan harga obligasi yang telah beredar di pasar.

Penyesuaian ini memengaruhi nilai wajar portofolio investasi pendapatan tetap perusahaan.

"Namun, dampak itu lebih bersifat akuntansi dan valuasi, bukan mencerminkan penurunan kualitas aset, selama obligasi tersebut tetap memiliki fundamental yang kuat dan dipegang hingga jatuh tempo," katanya kepada Kontan, Senin (8/6).

Dari perspektif jangka panjang, kenaikan yield justru menciptakan peluang investasi yang lebih menarik.

Dana baru dan arus kas dari kupon dapat ditempatkan kembali pada instrumen berimbal hasil tinggi.

"Hal itu berpotensi meningkatkan recurring investment income perusahaan dalam beberapa tahun ke depan," tuturnya.

Perusahaan menegaskan fokus investasi institusi jangka panjang bukan pada fluktuasi harga jangka pendek, melainkan pada kemampuan membangun portofolio yang menghasilkan imbal hasil optimal dengan risiko terkendali.

>>> Kementan Gandeng Billy Mambrasar untuk Berdayakan Petani Muda Papua

"Oleh karena itu, perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, kualitas aset, diversifikasi, serta asset liability matching dalam setiap keputusan investasi," ungkapnya.

Manajemen Ciputra Life menilai perubahan suku bunga merupakan bagian dari siklus pasar yang diantisipasi dalam pengelolaan investasi dengan pendapatan tetap sebagai pilar utama.

Perusahaan akan mengelola durasi portofolio secara aktif dan memanfaatkan momentum koreksi harga obligasi untuk akumulasi selektif.

Untuk portofolio saham, peningkatan yield dapat menaikkan tingkat diskonto valuasi saham sehingga potensi tekanan pasar meningkat terutama pada saham bervaluasi tinggi.

"Oleh karena itu, kami lebih mengutamakan perusahaan dengan fundamental yang kuat, arus kas yang sehat, tata kelola yang baik, dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang jelas," ucapnya.

Berdasarkan laporan keuangan per April 2026, Ciputra Life mencatatkan total investasi sebesar Rp 1,10 triliun, yang didominasi oleh instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 615,47 miliar.

>>> Cara Praktis Cek Tunggakan BPJS Kesehatan Lewat HP Tanpa Ribet

Pada periode yang sama, perusahaan berhasil membukukan hasil investasi sebesar Rp 22,37 miliar.