Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Kenaikan ini merupakan yang ketiga dalam beberapa bulan terakhir dan memunculkan ekspektasi tren suku bunga masih akan terus naik.

in1

>>> Hasil Piala Dunia: Canobbio Kartu Merah, Spanyol Singkirkan Uruguay

Kondisi tersebut turut memengaruhi berbagai instrumen investasi, termasuk obligasi dan reksa dana. Lantas, bagaimana strategi yang bisa dilakukan investor agar dapat memperoleh hasil optimal sekaligus mengelola risiko?

Dampak Kenaikan Suku Bunga pada Obligasi dan Reksa Dana

Perencana Keuangan Zelts Consulting Ahmad Gozali mengatakan kenaikan suku bunga umumnya akan menekan harga obligasi. Dampaknya juga akan dirasakan reksa dana pendapatan tetap karena portofolionya berisi obligasi.

"Dengan suku bunga yang sedang naik maka harga obligasi akan tertekan dan reksa dana jenis pendapatan tetap juga pasti akan mengalami penurunan NAB karena portofolionya berisi obligasi," ujar Ahmad kepada CNNIndonesia.

com.

Menurut dia, investor yang ingin masuk ke reksa dana pendapatan tetap sebaiknya memilih produk yang memiliki portofolio obligasi bertenor pendek.

Hal ini agar dampak kenaikan suku bunga tidak terlalu besar.

Sementara bagi investor yang ingin membeli obligasi secara langsung, ia menyarankan memilih obligasi yang baru diterbitkan.

"Kalau mau beli obligasi secara langsung, boleh pilih obligasi yang baru dikeluarkan karena sudah memiliki suku bunga yang lebih tinggi," ucap Ahmad.

Ia menilai strategi tersebut lebih cocok diterapkan oleh investor dengan profil risiko rendah hingga menengah yang mengutamakan keamanan investasi dan tidak menyukai fluktuasi harga yang tinggi.

Tips Meminimalkan Risiko Investasi

Ahmad juga mengingatkan obligasi tetap memiliki risiko, mulai dari pengurangan harga hingga risiko gagal bayar. Untuk meminimalkan risiko, investor dapat memilih obligasi pemerintah.