Vale Naikkan Proyeksi Arus Kas US$1,5 Miliar Usai Konflik Iran Dongkrak Harga Bijih Besi
Produsen bijih besi terbesar di dunia, Vale SA, menaikkan proyeksi arus kas bebas untuk bisnis inti besinya sebesar US$1,5 miliar.
Kenaikan ini mencerminkan lonjakan harga komoditas pasca-pecahnya konflik Iran pada Senin, 8 Juni 2026.
>>> OJK Panggil Manajemen Toyota Astra Financial Services Terkait Penagihan Kredit
Perusahaan asal Brasil tersebut kini memperkirakan harga rata-rata bijih besi akan mencapai US$112 per ton pada tahun ini, meningkat dari proyeksi sebelum konflik sebesar US$102 per ton.
Dampak Konflik terhadap Operasional Vale
Meskipun harga bijih besi naik, gangguan logistik di Selat Hormuz memicu pembengkakan biaya pengiriman dan harga bahan bakar yang menekan margin kuartal pertama mereka.
Chief Executive Officer Vale SA, Gustavo Pimenta, menegaskan bahwa perusahaan tidak melihat adanya penurunan permintaan di pasar logam global akibat perang tersebut.
Vale memilih mengoptimalkan aset internal dibandingkan melakukan akuisisi baru di tengah situasi pasar saat ini.
Permintaan global terhadap mineral penting dinilai masih dalam kondisi yang sangat menguntungkan bagi korporasi.
Pimenta juga menyampaikan sentimen positif terhadap kinerja perusahaan untuk sisa tahun ini.
>>> Oppo dan Vivo Siap Tantang Dominasi Kamera Vlogging DJI
Meskipun produksi baja di China diperkirakan telah mencapai titik tertinggi, Vale melihat potensi pertumbuhan baru dari Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Serikat.
India diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan utama seiring rencana penggandaan produksi baja mentah dalam sepuluh tahun ke depan.
Akibat situasi keamanan yang belum kondusif, Vale memutuskan menunda operasional kompleks pelet di Oman yang memiliki kapasitas produksi tahunan 9 juta ton.
Pihak manajemen memastikan pembukaan kembali fasilitas tersebut akan menunggu sampai ketegangan regional mereda.
Selain fokus pada bisnis inti, Vale sedang mengkaji potensi strategis untuk masuk ke industri logam tanah jarang di Brasil yang memiliki cadangan besar di luar China.
Namun, kepastian ekspansi tersebut masih terganjal evaluasi mengenai skala ekonomis dan kemampuan bersaing dengan produsen internasional.
>>> Pengelola Between Two Gates Kotagede Terapkan Aturan Baru untuk Wisatawan
Saat ini perusahaan memilih memprioritaskan lini bisnis yang telah memiliki keahlian dan skala kuat seperti tembaga dan nikel.
Update Terbaru
DPR dan Pemerintah Sahkan Batas Usia Pensiun Baru Anggota Polri
Selasa / 09-06-2026, 15:49 WIB
OJK Panggil Toyota Astra Financial Services Terkait Dugaan Kekerasan Penagihan
Selasa / 09-06-2026, 15:49 WIB
Penjualan Mobil Mei 2026 Melonjak 14 Persen Secara Tahunan
Selasa / 09-06-2026, 15:49 WIB
Pemerintah Lanjutkan Efisiensi Anggaran pada 2027
Selasa / 09-06-2026, 15:48 WIB
Chatib Basri: Tiga Opsi Kelola APBN di Tengah Tantangan Fiskal
Selasa / 09-06-2026, 15:48 WIB
Ciputra Life Sesuaikan Strategi Investasi Hadapi Kenaikan Yield
Selasa / 09-06-2026, 15:48 WIB
Markas Timnas Inggris di Florida Diguncang Gempa Jelang Laga Kontra Kosta Rika
Selasa / 09-06-2026, 15:48 WIB
Kementan Gandeng Billy Mambrasar untuk Berdayakan Petani Muda Papua
Selasa / 09-06-2026, 15:44 WIB
Cara Praktis Cek Tunggakan BPJS Kesehatan Lewat HP Tanpa Ribet
Selasa / 09-06-2026, 15:44 WIB
Kehadiran Edwin Hidayat dan Anthony Leong Dinilai Percepat Transformasi Digital Telkom
Selasa / 09-06-2026, 15:44 WIB
Laba Bersih BSI Melonjak 17,79 Persen Capai Rp2,80 Triliun
Selasa / 09-06-2026, 15:44 WIB
Mengenal Finazia, Penyanyi Duo MikkyZia yang Viral Usai Konser EXO
Selasa / 09-06-2026, 15:40 WIB
Saham Amman Mineral Berpotensi Melonjak 90 Persen
Selasa / 09-06-2026, 15:40 WIB
Xiaomi Resmi Luncurkan Redmi Pad 2 di Indonesia, Harga Rp2,3 Juta
Selasa / 09-06-2026, 15:39 WIB






