Pemerintah tengah merampungkan perumusan skema insentif baru untuk kendaraan listrik roda dua dan roda empat. Langkah ini diambil untuk menjaga momentum pertumbuhan industri otomotif nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa penyesuaian kebijakan mempertimbangkan fenomena lipstick effect.

>>> Lamborghini Tunda Peluncuran Mobil Listrik Akibat Rendahnya Permintaan Konsumen

Fenomena ini adalah kecenderungan konsumen tetap membeli barang mewah berukuran kecil di tengah penurunan daya beli.

Pemerintah berupaya mengantisipasi dampak tersebut agar sektor otomotif berbasis ekosistem domestik tetap kokoh. Kebijakan ini juga berkaitan dengan optimalisasi cadangan nikel nasional sebagai bahan baku utama baterai.

Dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta pada Senin (8/6/2026), Agus menyatakan bahwa fenomena lipstick effect perlu diantisipasi.

"Kalau kita perlu perhatikan artinya akan sangat baik apabila fenomena itu kita antisipasi agar supaya lipstick effect positif (tidak sebaliknya)," ujarnya.

Kementerian Perindustrian juga menyoroti prioritas pengadaan barang di masyarakat yang mulai bergeser.

"Tapi juga kita harus memperhatikan barang-barang yang memang dianggap secondary, atau yang sedang tidak dibutuhkan, atau kalau dibutuhkan juga tidak urgent," lanjut Agus.

Penyusunan regulasi kompensasi fiskal ini digodok bersama kementerian terkait. Tujuannya agar roda bisnis manufaktur kendaraan listrik tidak mengalami stagnasi.

"Oleh sebab itu, kami, government, sekarang masih dalam proses dan sudah under final dalam mengusulkan misalnya insentif dari EV, baik roda empat maupun roda dua.

>>> Bengkel Spesialis Ingatkan Pemilik Motor Listrik Tetap Lakukan Servis Berkala

Itu bagian dari kita agar industri otomotif yang dikaitkan dengan EV itu tidak akan turun," ujar Agus.

Agus menegaskan penguatan ekosistem kendaraan listrik menjadi krusial mengingat potensi besar Indonesia di sektor hulu. "Kenapa EV?