Harga solar industri di sejumlah wilayah Indonesia melonjak hingga menembus Rp30.000 per liter.

Kenaikan ini dipicu oleh penutupan jalur perdagangan migas di Selat Hormuz pada Selasa, 9 Juni 2026.

>>> DSNG Bagikan Dividen Rp 498 Miliar Usai Laba Melonjak 60,2%

Kenaikan harga komoditas energi tersebut dinilai sangat memberatkan para pelaku usaha. Biaya operasional membengkak secara signifikan, khususnya di sektor pertambangan.

Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mencatat pergerakan harga solar industri di wilayah Indonesia Timur sudah mendekati Rp30.000 per liter.

Sementara di Kalimantan berkisar di atas Rp20.000 per liter, dari sebelumnya Rp15.000 hingga Rp18.000 per liter.

Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi, Ardhi Ishak Koesen, menyatakan bahwa harga solar industri saat ini sudah berkisar di atas Rp20.000 per liter.

Bahkan di daerah Indonesia Timur sudah mendekati Rp30.000 per liter.

"Hal ini tentu memberatkan bagi sektor industri. Porsi biaya bahan bakar saat ini bisa mencapai 40% dari total komponen biaya penambangan," ungkap Ardhi.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh penyedia jasa pertambangan di Sulawesi Tenggara, PT Zubay Mining.

Direktur PT Zubay Mining, Muhammad Emil, mencatat harga solar industri di wilayah operasional mereka telah menyentuh angka Rp31.000 per liter.

"Sehingga cukup memberikan tekanan terhadap biaya operasional tambang, terutama untuk kegiatan hauling dan konsumsi solar alat berat yang konsumsi BBM-nya tinggi," kata Emil.

Emil menjelaskan bahwa fluktuasi nilai jual bahan bakar tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor pemasok, lokasi geografis tambang, volume pemesanan, serta kesepakatan kontrak.

>>> Jurrien Timber Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026 karena Cedera Pangkal Paha

Berdasarkan data operasional PT Pertamina Patra Niaga (PPN), komoditas solar industri yang beredar di pasar terdiri atas tipe Marine Fuel Oil (MFO), Marine Diesel Fuel (MDF), dan High Speed Diesel (HSD).