Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia melonjak ke level 7,31 persen pada Selasa (9/6/2026) setelah investor kembali melakukan aksi jual di pasar sekunder.

Angka tersebut naik dari posisi sebelumnya yang berada di 7,14 persen, berdasarkan data Investing. com.

>>> Kanada Siapkan Dua Kota untuk Gelar Piala Dunia 2026

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menilai kondisi ini mencerminkan ketidaknyamanan investor terhadap atmosfer investasi di dalam negeri.

Tekanan global akibat ketegangan Iran dan Amerika Serikat yang memicu kenaikan harga minyak disebut tidak berdampak sebesar yang dialami Indonesia.

"Walaupun regulator sudah mengantisipasi, bahkan Sabtu kemarin mereka keluarkan statement, kondisi baik-baik saja, makro terkendali.

Cuma itu tadi, kondisi ini, belum ada yang membuat kenyamanan bagi investor untuk bertahan di pasar kita, terutama dari asing," kata Ramdhan.

Pernyataan Pemerintah Dinilai Belum Cukup

Pernyataan pemerintah untuk menstabilkan pasar dinilai belum cukup kuat membangun kembali kepercayaan investor asing yang kini menyoroti kebijakan fiskal dan risiko defisit.

Investor institusi domestik seperti dana pensiun dan reksa dana dilaporkan masih memilih bersikap wait and see.

"Itu kan bahasa diplomatis ya, bahasa politis. Cuma secara kebijakan belum terlihat kebijakan yang bisa membuat investor nyaman di pasar kita," ujar Ramdhan.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual memaparkan bahwa kenaikan imbal hasil acuan juga melanda negara lain seperti India di 6,94 persen, Filipina 7,48 persen, dan Meksiko 9,15 persen.

Namun, keraguan pasar terhadap keberlanjutan kebijakan fiskal nasional tetap memberi pengaruh besar.

"Apalagi mungkin keberlanjutan kebijakan fiskal kita dipertanyakan karena sampai saat ini masih aman katanya [pemerintah], sampai US$100 kalau minyak tidak berubah ya.