Piutang pembiayaan industri multifinance pada April 2026 mengalami pertumbuhan sebesar 2,08% YoY menjadi Rp514,65 triliun.

Pertumbuhan ini didukung oleh pembiayaan modal kerja yang tumbuh sebesar 10,64% YoY.

Secara bulanan, piutang pembiayaan pada April 2026 naik tipis sebesar 0,10% month to month (MtM) dari Rp514,09 triliun.

Non performing financing (NPF) gross perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 2,89%, sedangkan NPF net sebesar 0,78%, dengan gearing ratio 2,14 kali.

Prospek dan Tantangan ke Depan

Praktisi dan pengamat industri pembiayaan Jodjana Jody memprediksi penjualan mobil pada April 2026 pasti naik, karena sebelumnya pada Maret 2026 hari kerja terpotong oleh tanggal merah.

"Bulan Mei jualan otomotif agak tertekan karena banyaknya hari libur dan Juni biasanya seasonal anak liburan sekolah, maka demand otomotif biasanya flat atau turun," ungkapnya.

Menurut Jodjana, terdapat sejumlah indikator makroekonomi yang perlu diwaspadai, seperti naiknya suku bunga acuan atau BI Rate dan tingginya kurs dolar AS yang mulai memacu kenaikan harga barang.

Selain itu, faktor eksternal yakni perang Iran dan Israel yang telah menyebabkan disrupsi rantai pasok berbagai komoditas.

"Jadi saya khawatir semester II akan tertekan, tidak seperti siklus biasanya karena beberapa faktor tadi, juga kemungkinan supply kendaraan yang terbatas akibat disrupsi rantai pasok," ucapnya.

>>> Jemaah Haji Asal Blora Apresiasi Kedekatan Hotel dengan Masjid Nabawi

Jodjana juga berpendapat bahwa ketergantungan industri pembiayaan pada industri roda empat tidak mudah diubah karena volumenya yang besar dan jaminannya yang likuid.

"Bila ingin perbaiki risiko pembiayaan, ya mesti diversifikasi jenis pembiayaan seperti yang sudah diarahkan OJK," sebutnya.

PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) mencatat penyaluran pembiayaan mobil baru hingga April 2026 mencapai Rp1,23 triliun, tumbuh 3% YoY dari Rp882 miliar.