>>> Barcelona Resmi Rekrut Anthony Gordon dari Newcastle United

Instrumen yang potensial meliputi Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.

"Namun, cadangan devisa masih dapat stabil apabila arus modal asing kembali masuk ke SBN dan SRBI, penerbitan surat utang valas pemerintah berjalan baik, ekspor komoditas tetap kuat, dan kebijakan devisa hasil ekspor dijalankan dengan tetap menjaga kepercayaan pelaku usaha," tutur Josua.

Josua menggarisbawahi bahwa aspek terpenting yang harus dicermati bukanlah penurunan nominal semata, melainkan faktor pemicu di balik penyusutan tersebut.

Risiko penurunan dinilai masih dapat dikelola jika penentu utamanya adalah pembayaran utang luar negeri yang terjadwal.

Sebaliknya, kondisi akan menjadi sinyal bahaya bagi ketahanan ekonomi jika dipicu oleh faktor-faktor pasar yang tidak stabil.

"Kendati demikian jika penurunan terjadi karena kebutuhan intervensi rupiah yang terus meningkat, arus modal asing yang belum stabil, serta surplus dagang yang makin menyempit, maka ini menjadi sinyal bahwa ruang pertahanan eksternal mulai terkikis," katanya.

Josua mengingatkan pemerintah dan pelaku pasar untuk mewaspadai dinamika global, seperti arah suku bunga global, imbal hasil obligasi AS, harga minyak bumi, ketegangan geopolitik Timur Tengah, dan penguatan dolar AS.

Dari dalam negeri, faktor penentu yang wajib diawasi adalah defisit transaksi berjalan, pergerakan modal asing di pasar saham dan obligasi, kebutuhan utang luar negeri, efektivitas kebijakan devisa hasil ekspor, serta kredibilitas kebijakan fiskal.

Guna menghadapi tekanan ini, Josua menyarankan agar Bank Indonesia tetap melakukan stabilisasi nilai tukar tanpa harus mematok level kurs tertentu secara kaku yang dapat menguras cadangan devisa.

Intervensi pasar disarankan fokus untuk meredam volatilitas berlebih, sementara pemerintah memperkuat fundamental lewat ekspor bernilai tambah, menekan impor energi, memperbaiki regulasi, dan menjaga disiplin fiskal.

Ia juga meminta agar penerapan kebijakan devisa hasil ekspor dilakukan secara fleksibel disertai insentif yang memadai bagi para pelaku usaha.

"Apabila kebijakan devisa hasil ekspor dilakukan terlalu kaku, pelaku usaha bisa merasa terbebani dan justru mengurangi minat investasi.

>>> Istana Kaji Opsi Kantin Sekolah untuk Makan Bergizi Gratis di Wilayah 3T

Namun, jika dijalankan secara fleksibel, transparan, dan didukung insentif yang menarik, kebijakan tersebut dapat membantu memperkuat pasokan valuta asing domestik," ujar Josua.