Hadits tersebut juga memuat peringatan mendalam mengenai akhir dari ambisi manusia melalui redaksi tentang mulut yang dipenuhi tanah.

>>> Shin Tae-yong Resmi Latih Persija Jakarta Musim Depan

Para ulama mengartikan tanah sebagai simbol dari kematian.

Ungkapan itu mengisyaratkan bahwa ketamakan materi yang tidak terkendali umumnya baru akan berhenti saat kehidupan seseorang telah berakhir.

Peringatan ini dinilai tetap relevan pada setiap kurun zaman.

Kesibukan dalam mengejar harta benda kerap membuat manusia melalaikan sifat dunia yang sementara. Waktu dan pikiran habis untuk mengumpulkan materi, sedangkan persiapan menuju akhirat justru terabaikan.

Pintu Taubat dan Pelajaran Utama

Kendati demikian, hadits ini diakhiri dengan kalimat yang memberikan harapan bagi setiap hamba. Allah ditegaskan senantiasa membuka pintu taubat bagi manusia.

"Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat." Pernyataan tersebut menandakan bahwa seseorang dapat kembali kepada Allah dengan memperbaiki niat.

Orientasi hidup yang melulu soal duniawi dapat diluruskan kembali dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.

Secara umum, terdapat tiga pelajaran penting yang bisa dipetik dari kandungan hadits riwayat Imam Bukhari ini.

Pertama, ketamakan merupakan sifat tercela yang wajib diwaspadai karena bisa mengikis rasa syukur.

Kedua, kebahagiaan sejati lahir dari hati yang qanaah, bukan dari tolok ukur jumlah harta. Ketiga, seorang mukmin sepatutnya menjadikan amal saleh sebagai cita-cita terbesar tanpa terjebak perlombaan dunia.

>>> Cara Berobat Pakai BPJS Kesehatan di Luar Kota Tanpa Pindah Faskes

Harta yang dikumpulkan selama hidup pada akhirnya tidak akan dibawa mati oleh manusia. Hal yang akan menemani hamba di hadapan Allah kelak hanyalah amal perbuatan serta tingkat ketakwaan.