China Uji Reproduksi Manusia di Luar Angkasa dengan Embrio Buatan
Eksperimen reproduksi manusia di luar angkasa memasuki babak baru. Para ilmuwan China mengirimkan embrio buatan ke orbit untuk menguji potensi manusia berkembang biak di luar Bumi.
Penelitian ini memanfaatkan stasiun luar angkasa Tiangong. Sampel sel punca manusia hidup dibawa ke orbit Bumi rendah selama lima hari.
>>> Bank DBS Indonesia dan RupiahCepat Perkuat Kerja Sama Channeling
Tim ahli dari Chinese Academy of Sciences memimpin studi mutakhir ini. Sampel yang digunakan bukan berasal dari pembuahan alami, melainkan struktur artifisial.
"Embrio buatan manusia ini dibuat dari sel punca sebagai bahan bakunya," kata Yu Leqian, pemimpin proyek.
"Ini bukan embrio manusia sungguhan dan tidak memiliki kemampuan berkembang menjadi individu, tetapi dapat berfungsi sebagai model untuk mempelajari perkembangan awal manusia."
Tim peneliti membagi struktur buatan menjadi dua model. Model pertama dikulturkan pada sel rahim untuk mereplikasi fase saat embrio menempel pada dinding rahim.
Model kedua ditempatkan di dalam chip mikrofluida. Ini untuk meniru penataan ulang lapisan sel menjadi jaringan dan organ tubuh.
Analisis dan Tantangan Gravitasi Mikro
Setiap sampel ditempatkan di ruang khusus dalam wadah kultur yang terkondisikan. Setelah lima hari di orbit, seluruh sampel dibekukan sebelum dikirim kembali ke Bumi untuk analisis lanjutan.
>>> Kurs Rupiah 8 Juni 2026 Melemah ke Rp18.170 per Dolar AS
Sebagai pembanding, tim juga mengembangkan sampel identik di laboratorium darat. Ini untuk melihat perbedaan pertumbuhan di dua lingkungan berbeda.
"Kami berharap dengan membandingkan perkembangan sampel luar angkasa dan darat, kami dapat mengidentifikasi faktor yang memengaruhi pertumbuhan embrio manusia di luar angkasa," ujar Yu.
"Serta mengatasi risiko dan tantangan yang mungkin dihadapi manusia selama menghuni luar angkasa dalam jangka panjang."
Masa perkembangan di stasiun Tiangong setara dengan periode 14 hingga 21 hari setelah pembuahan alami. Jendela waktu ini sangat krusial karena menjadi fase awal pembentukan organ tubuh manusia.
Kondisi lingkungan antariksa yang ekstrem, seperti radiasi kosmik dan gravitasi mikro, berpotensi mengganggu stabilitas sel reproduksi.
>>> IMF Peringatkan Dunia Hadapi Guncangan Ekonomi Berkelanjutan
Eksperimen ini diharapkan melengkapi data ilmiah yang masih terbatas mengenai risiko reproduksi di luar Bumi.
Update Terbaru
Cara Cek Nominal Terbaru Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Tahun 2026
Jumat / 24-07-2026, 08:29 WIB
Daftar Negara ASEAN dengan Usia Harapan Hidup Tertinggi 2026
Jumat / 24-07-2026, 08:23 WIB
The Odyssey Dongkrak Penjualan Buku Fisik dan Audio Karya Homer
Jumat / 24-07-2026, 08:23 WIB
5 Weton Berbakat Kaya Menurut Primbon Jawa, Punya Garis Tangan Emas
Jumat / 24-07-2026, 08:23 WIB
4 Kelebihan Sunscreen Spray Dibandingkan Sunscreen Krim, Lebih Praktis
Jumat / 24-07-2026, 08:23 WIB
4 Shio yang Menarik Keberuntungan pada 24 Juli 2026, Semesta Berpihak
Jumat / 24-07-2026, 08:23 WIB
Shigeru Miyamoto Kritik Keras Pengejaran Keuntungan Jangka Pendek di Industri Game
Jumat / 24-07-2026, 08:04 WIB
Cara Cek Bansos PKH Juli 2026 Secara Online dengan NIK
Jumat / 24-07-2026, 08:04 WIB
Cara Cek Penerima BPNT 2026: Panduan Lengkap Lewat Website dan Aplikasi
Jumat / 24-07-2026, 08:04 WIB
Dude Harlino Kembalikan Honor Brand Ambassador DSI Rp5,25 Miliar ke Polisi
Jumat / 24-07-2026, 08:01 WIB
Sarwendah Geram Mendiang Ayah Diseret dalam Polemik Rumah Bersama Ruben Onsu
Jumat / 24-07-2026, 08:01 WIB
Sarwendah Ogah Kejar Nafkah Anak dari Ruben Onsu, Pilih Mandiri
Jumat / 24-07-2026, 08:01 WIB
Pesan Rahasia Jokowi ke Gibran: 'Jangan Jejer' dengan Prabowo?
Jumat / 24-07-2026, 08:01 WIB
Kebaya Modern Lahir dari Proyek Politik Budaya, Bukan Sekadar Tradisi
Jumat / 24-07-2026, 08:01 WIB







