Hari Kebaya Nasional diperingati setiap 24 Juli sejak 2024. Di balik perayaan itu, tersimpan sejarah panjang yang jarang diketahui banyak orang.

Desainer sekaligus peneliti sejarah Lenny Agustin Ernawati mengungkap temuan menarik dalam disertasi doktoralnya. Kebaya modern ternyata lahir dari proyek politik budaya pada era Orde Baru.

>>> Ramalan Zodiak 24 Juli: Aquarius Kesetiaan Diuji, Pisces Tenangkan Diri

Disertasi berjudul 'Kebaya Modern sebagai Busana Nasional Wanita Indonesia pada Era Orde Baru: Relasi Kuasa, Politik Kebudayaan, dan Tubuh Perempuan' ini disidangkan di Universitas Indonesia pada awal Juli 2026.

Kebaya Bukan Tradisi Statis

Selama ini kebaya dianggap sebagai busana tradisional yang bentuknya baku sejak dulu. Padahal, sejarah menunjukkan sebaliknya.

Lenny menjelaskan bahwa kebaya lahir dari pertemuan berbagai budaya sejak berabad-abad lalu. Pengaruh Arab, Persia, India, Tionghoa, hingga Eropa ikut membentuk perkembangannya di Nusantara.

Dari lingkungan keraton, masyarakat kolonial, komunitas peranakan, hingga kota pelabuhan, kebaya terus berubah bentuk, fungsi, dan makna.

"Sejarah kebaya menunjukkan bahwa busana ini tidak lahir sebagai tradisi tunggal yang statis," tulis Lenny.

Dari Simbol Nasionalisme ke Busana Nasional

Sebelum Indonesia merdeka, kebaya sudah menjadi simbol perempuan pribumi. Pada masa pergerakan nasional, perempuan berkebaya digambarkan sebagai sosok nasionalis dan berpendidikan.

Di era Presiden Soekarno, citra perempuan berkebaya semakin diperkuat sebagai representasi kecantikan Indonesia. Namun saat itu kebaya belum memiliki standar nasional.

Menurut disertasi tersebut, pemerintah Orde Baru secara aktif membentuk kebaya menjadi busana nasional melalui berbagai kebijakan kebudayaan. Kebaya dikenakan dalam acara kenegaraan, organisasi perempuan, diplomasi, hingga kontes kecantikan.

>>> Geely Luncurkan Mobil Bensin di Tengah Tren Listrik, Ini Alasannya