Modernisasi kebaya bukan proses spontan mengikuti tren mode. Modernisasi dilakukan agar kebaya tetap relevan dengan kehidupan perempuan modern tanpa kehilangan identitas nasional.

Sejak 1970-an hingga 1990-an, potongan kebaya menjadi lebih praktis. Bahan berkembang dari katun menjadi brokat, organza, hingga sutra.

Detail seperti payet, kristal, ritsleting, dan siluet modern mulai digunakan.

Dengan kata lain, modernisasi menjadi strategi agar kebaya tidak ditinggalkan generasi baru. Kebaya juga dilihat sebagai 'bahasa visual' yang menyampaikan pesan tentang identitas, status sosial, dan karakter pribadi.

Hari Kebaya Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023. Peringatan ini lahir dari gerakan masyarakat yang ingin menghidupkan kembali kebaya sebagai identitas budaya.

UNESCO menetapkan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2024 melalui pengajuan bersama lima negara Asia Tenggara. Namun menurut Lenny, makna terbesar kebaya bukan hanya status warisan budaya.

Kebaya adalah artefak sejarah yang mencerminkan perjalanan bangsa Indonesia tentang identitas, modernitas, politik kebudayaan, dan posisi perempuan.

>>> Poinpy, Platformer Modern Terbaik, Kembali Gratis Setelah Setahun Hilang

Mengenakan kebaya hari ini berarti menyimpan perjalanan panjang bagaimana bangsa ini membangun identitasnya melalui mode.