Udara pada malam hingga pagi hari di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Pulau Jawa, terasa lebih dingin dalam beberapa pekan terakhir.

Pakar menyebut kondisi yang dikenal sebagai bediding atau bedhidhing ini merupakan fenomena normal saat musim kemarau.

>>> Alasan Modric Bersedia Bertahan di AC Milan

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University Givo Alsepan mengatakan bediding tidak secara langsung disebabkan oleh perubahan iklim.

Menurutnya, fenomena tersebut merupakan bagian dari dinamika iklim musiman yang hampir selalu terjadi pada periode Juni hingga September.

"Bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau.

Ia tidak berdiri sendiri, melainkan manifestasi dari proses fisik atmosfer," kata Givo, dikutip dari laman IPB University, Rabu (22/7).

"Kondisi ini terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif," tambahnya.

Pendinginan radiasi terjadi ketika panas yang diserap permukaan Bumi pada siang hari dilepaskan kembali pada malam hari.

Proses tersebut berlangsung lebih efektif ketika langit cerah dan hanya sedikit awan yang menutupi atmosfer.

"Minimnya tutupan awan membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dipancarkan kembali ke atmosfer dan luar angkasa, sehingga suhu udara di dekat permukaan turun lebih cepat," jelasnya.

Udara pada musim kemarau juga cenderung lebih kering dibandingkan saat musim hujan. Rendahnya kandungan uap air membuat panas tidak banyak tertahan di atmosfer.

"Ketika udara lebih kering, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin," ujar Givo.

Lebih terasa di dataran tinggi

Menurut Givo, bediding umumnya terasa lebih kuat di daerah pegunungan dan dataran tinggi.