Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memberikan peringatan keras mengenai kondisi ekonomi global yang semakin sering dan kompleks.

Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara di Berlin, Jerman, pada Senin (8/6/2026).

>>> Kemenkes: Indonesia Kekurangan 93.200 Dokter Umum pada 2032

Georgieva menekankan pentingnya membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh setelah melewati berbagai krisis beberapa tahun terakhir. "Saya khawatir kita belum sepenuhnya menyadari bahwa inilah kondisi dunia ke depannya.

Guncangan tidak akan hilang begitu saja," ujarnya dalam siniar Leaders with Francine Lacqua.

Sejak memimpin IMF pada 2019, Georgieva telah menavigasi lembaga tersebut melewati pandemi Covid-19, konflik Ukraina dan Timur Tengah, hingga gejolak tarif perdagangan.

Analisis ekonomi yang objektif dinilai sebagai instrumen terbaik institusi dalam menghadapi ketidakpastian.

Disrupsi AI dan Kesenjangan Sosial

Tantangan baru kini muncul dari disrupsi teknologi melalui perkembangan pesat Kecerdasan Buatan (AI) yang berdampak langsung pada pasar tenaga kerja global.

IMF merefleksikan kegagalan masa lalu dalam mengantisipasi kesenjangan sosial akibat arus globalisasi.

"Dunia secara keseluruhan memang lebih baik, tetapi banyak komunitas yang kehilangan pekerjaan karena globalisasi, dan kita kurang memberikan perhatian pada mereka," ungkap Georgieva.

>>> PTPP Bangun RSUD Mamuju Tengah Senilai Rp143 Miliar

Guna mencegah kesalahan serupa di era otomatisasi AI, IMF mendorong kebijakan yang lebih inklusif.

Transformasi ekonomi modern diharapkan tidak mengesampingkan kelompok masyarakat rentan demi menjaga kohesi sosial. IMF berkomitmen mendorong kebijakan yang melindungi mereka yang terdampak.

Pengawasan Ekonomi Rusia dan Bantuan ke Ukraina

IMF juga menghadapi hambatan dalam melakukan fungsi pengawasan ekonomi terhadap Rusia setelah sempat menunda penilaian tahunan (Article IV) akibat invasi ke Ukraina.

Langkah melanjutkan tinjauan ini sempat memicu protes dari negara-negara Uni Eropa.

Georgieva mengakui pengumpulan data ekonomi dari Rusia sangat sulit dilakukan saat ini. Namun, ia memastikan penilaian rutin terhadap negara tersebut akan dimulai kembali pada waktu tertentu.

Sebagai bentuk dukungan terhadap stabilitas di wilayah terdampak konflik, IMF tetap merealisasikan bantuan finansial bagi Ukraina.

>>> Universitas Airlangga Buka Pendaftaran Jalur Seleksi Mandiri Juni 2026

Lembaga tersebut telah mengucurkan program pendanaan senilai US$15,6 miliar pada 2023 dan US$8,1 miliar pada tahun ini.