Indonesia melakukan studi banding ke beberapa negara yang sukses mengoptimalkan peran dokter keluarga. Salah satu acuan utama adalah Belanda.

"Kita juga melakukan benchmarking di luar negeri. Belanda itu sangat terkenal bagaimana mereka melakukan transformasi family doctor dalam 20 tahun terakhir," kata Budi.

>>> Bank Mega Syariah Salurkan Pembiayaan Emas Rp43 Miliar

Kebijakan serupa juga diadopsi negara tetangga untuk mengalihkan beban penanganan medis dari tingkat lanjut ke tingkat dasar.

Sistem ini mengarahkan agar sebagian besar keluhan kesehatan warga selesai di fasilitas primer.

"Singapura, Menteri Kesehatannya bilang sendiri ke saya, personally dokter spesialis buat orang Indonesia saja deh, tapi nanti Singapura harusnya semuanya selesai di family doctor," sorot Budi.

Melalui penguatan kompetensi, dokter keluarga diharapkan mampu menekan angka rujukan ke spesialis. Penurunan kompetensi penanganan ke tingkat dasar menjadi tren global.

"Jadi benar-benar tren di dunia adalah wewenang dan kompetensi itu diturunkan ke bawah, ke layanan family care. Sehingga spesialis itu hanya mengambil kasus-kasus yang sangat rumit," jelas Budi.

Kementerian Kesehatan mencatat kesenjangan besar dalam penerapan sistem ini dibandingkan negara maju.

Data menunjukkan 99,2 persen puskesmas di dalam negeri masih memerlukan dokter dengan kompetensi keluarga layanan primer.

"Kita melihat Belanda yang sudah berhasil melakukan transformasi ini, Singapura juga sekarang sedang dalam proses, negara-negara yang lain juga sudah banyak masuk.

Kita gap-nya masih cukup besar," katanya.

Pemerintah berencana mengadopsi standar global secara lebih agresif dengan mendistribusikan tenaga ahli ke tingkat dasar. Seluruh puskesmas nantinya akan difasilitasi dengan dokter spesialis dasar.

>>> PT Indo American Seafoods Targetkan Pendapatan Naik 30% pada 2026

"Indonesia ingin lebih agresif lagi meloncat sama dengan benchmark yang ada di dunia, dan kita berencana melengkapi seluruh puskesmas dengan dokter spesialis dasar," pungkas Budi.