Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berkomitmen memperkuat jalur karier dokter di puskesmas. Langkah ini bertujuan menghapus stigma bahwa profesi layanan primer lebih rendah daripada dokter spesialis.

Menurut Budi, banyak dokter terbaik enggan bertahan di puskesmas karena anggapan karier spesialis lebih bergengsi. Hal ini membatasi peluang pengembangan profesi di layanan primer.

>>> Infinix Smart 20 Resmi di India: Layar 120Hz, Baterai 5200mAh, Harga Mulai Rp2,4 Juta

"Di Indonesia yang unik, semua dokter ingin jadi dokter spesialis.

Akibatnya dokter-dokter yang bagus itu nggak ada yang tinggal di puskesmas," kata Budi dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).

Pola pikir di masyarakat dan lingkungan medis dinilai menjadi pemicu persepsi negatif tentang kelas sosial antarprofesi dokter. Akibatnya, motivasi tenaga medis di fasilitas kesehatan tingkat pertama menurun.

"Dokter yang tinggal di puskesmas yang pasrah, sudah tahu dia tidak mungkin jadi spesialis istilahnya. Ya kelasnya berbeda dengan dokter spesialis.

Nah ini tidak benar," ujar Budi.

Padahal, tenaga medis di fasilitas primer berperan krusial sebagai garda terdepan. Mereka menyelesaikan berbagai persoalan kesehatan sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit.

"Kalau kita lihat di luar negeri, justru dokter-dokter yang di depan ini adalah dokter-dokter hebat karena mereka yang benar-benar bisa menyelesaikan masalahnya," kata Budi.

Studi Banding ke Belanda dan Singapura

Pemerintah berfokus pada reformasi sistem kesehatan nasional dengan memberikan kepastian masa depan profesi. Langkah ini diharapkan mengikis rasa rendah diri di kalangan tenaga medis layanan primer.

"Kita mesti memberikan kepastian karier bagi dokter di puskesmas agar mereka tidak merasa minder atau merasa kelas dua dibandingkan dengan dokter-dokter spesialis," ujar Budi.