Sejak akhir 1990-an, otoritas keamanan AS berulang kali membongkar sindikat penyelundupan suku cadang F-14 yang mengarah ke Iran.

Pada 1998, seorang pria bernama Parviz Lavi ditangkap karena mencoba membeli komponen mesin TF30 F-14 untuk dikirim ke Iran lewat Belanda.

Di tahun yang sama, firma Multicore Ltd tersangkut kasus serupa karena membeli suku cadang khusus F-14.

Meski penangkapan terus gencar, penyelundupan komponen ke Iran dikabarkan tidak pernah benar-benar berhenti total.

Pemusnahan Massal oleh Pentagon

Kekhawatiran Washington terhadap kebocoran suku cadang F-14 mencapai puncak setelah Angkatan Laut AS memensiunkan jet tersebut pada 2006.

Pentagon memilih memusnahkan sebagian besar sisa pesawat F-14 agar komponennya tidak jatuh ke tangan Iran.

Pada 2007, pemerintah AS menyita beberapa unit F-14 yang dipajang di museum karena masih memiliki komponen yang bisa dimanfaatkan Iran.

Kongres AS kemudian menerbitkan aturan ketat yang melarang penjualan komponen F-14, disahkan oleh Presiden George W. Bush pada 2008.

Akibatnya, banyak pesawat F-14 bekas milik AS dihancurkan secara mekanis agar tidak bisa dikanibalisasi sebagai sumber suku cadang.

F-14 Iran Masih Berperan

Kendati usianya menua, F-14 tetap menjadi pilar utama sistem pertahanan udara Iran.

Pesawat ini disiagakan di sekitar instalasi vital seperti Bushehr, Natanz, dan Arak untuk mengantisipasi ancaman drone atau pesawat mata-mata asing.

Iran terus menyuntikkan pembaruan menggunakan sistem radar, radio, navigasi, dan avionik buatan dalam negeri.

Teheran bahkan dilaporkan sukses memasang rudal baru, termasuk R-73 pasokan Rusia dan rudal domestik hasil modifikasi.

Langkah modernisasi ini membuat armada F-14 Iran tetap kompetitif meski usia pakainya hampir setengah abad.

>>> Microsoft Kembangkan Model AI Mandiri demi Kejar Superintelligence

Sebelum konflik terbaru, sejumlah analis militer memperkirakan Iran masih memiliki sekitar 20 hingga 40 unit F-14 yang laik terbang, meski jumlah riil tidak pernah dirilis resmi.