Tanpa pasokan suku cadang dan pendampingan pabrikan, banyak analis memperkirakan jet tempur Iran tidak akan bertahan lama.

Prediksi itu hampir terbukti.

Pada awal 1980-an, Iran berupaya memesan suku cadang resmi melalui Northrop Grumman, tetapi pemerintah AS memblokir izin ekspor.

"Merupakan kebijakan pemerintah AS untuk tidak mengizinkan Grumman maupun kontraktor pertahanan lainnya memasok komponen ke Iran," kata perwakilan Angkatan Laut AS saat itu.

Ketiadaan akses logistik resmi membuat kesiapan tempur F-14 Iran merosot tajam.

Teheran kemudian merancang strategi jangka panjang melalui industri penerbangan domestik dengan melakukan overhaul, perbaikan mandiri, dan modifikasi sistem senjata.

Tantangan terberat terjadi saat Perang Iran-Irak pada 1980-an. Pada 1984, laporan memperkirakan hanya tersisa sekitar 15 unit F-14 Iran yang siap terbang.

Para teknisi militer Iran menerapkan teknik kanibalisme pesawat, mencopot komponen dari pesawat rusak untuk dipasang pada unit yang masih bisa mengudara.

Puluhan jet F-14 yang tidak dapat terbang dialihfungsikan sebagai sumber suku cadang. Strategi darurat ini terbukti andal mempertahankan kesiapan tempur Tomcat selama perang.

>>> Reaktor Matahari Buatan China Tembus Batas Plasma Greenwald

Skandal Iran-Contra dan Jalur Gelap

Di tengah embargo, Iran sempat mendapat pasokan tidak terduga dari AS melalui skandal Iran-Contra Affair pada pertengahan 1980-an.

Pemerintahan Presiden Ronald Reagan secara rahasia menyetujui pengiriman logistik militer ke Iran demi membebaskan tawanan warga AS di Lebanon.

Iran menerima rudal AIM-54 Phoenix, rak bom, dan suku cadang vital F-14. Bantuan ini dimanfaatkan insinyur Iran untuk mengubah fungsi sebagian armada Tomcat menjadi pesawat penyerang target darat.

Setelah pasokan dari skandal itu habis, Teheran beralih ke jaringan ilegal.