Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan sebesar 2,27 persen ke level 4.960 pada akhir sesi I perdagangan hari Senin (8/6/2026).

Pelemahan ini terjadi setelah saham emiten yang berafiliasi dengan Grup Djarum tersebut terus berada di zona merah sejak tanggal 3 Juni 2026.

>>> BPOM: Banyak Pedagang Ritel Tak Bisa Bedakan Rokok Legal dan Ilegal

Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 409,64 juta saham BBCA diperdagangkan dengan frekuensi 63.843 kali. Nilai transaksi mencapai Rp 2,03 triliun.

Data dari aplikasi Stockbit Sekuritas menunjukkan investor asing banyak melakukan aksi jual terhadap saham BBCA.

Pada sesi I ini, volume penjualan bersih oleh investor asing mencapai 66,24 juta saham dengan perkiraan nilai sebesar Rp 328,23 miliar.

Meskipun terdapat tekanan jual dari investor asing, pembukuan akhir sesi I mencatatkan adanya akumulasi beli bersih secara diam-diam senilai Rp 149,5 miliar.

>>> Emiten Ritel Siapkan Strategi Berbeda Hadapi Tekanan Kurs Rupiah

Pergerakan sepekan terakhir menunjukkan saham BBCA telah anjlok 12,98 persen.

Total penjualan bersih asing mencapai Rp 2,29 triliun untuk periode 30 Mei 2026 sampai 5 Juni 2026.

Proyeksi Pergerakan Saham BBCA

CGS International Sekuritas memproyeksikan pergerakan saham BBCA berpotensi mengalami penurunan lanjutan. Batas support pertama di level 4.975 dan support kedua pada level 4.875.

Pergerakan harga saham diprediksi memiliki peluang berbalik arah jika mampu menyentuh angka pivot 5.175.

>>> Pelemahan Rupiah Dipicu Sentimen Geopolitik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed

Target resistance pertama pada level 5.275 dan resistance kedua di level 5.475.