Pelemahan Rupiah Dipicu Sentimen Geopolitik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang meningkat menjadi salah satu pemicu utama.
Konflik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah serangan yang melibatkan AS dan Iran. Eskalasi di sekitar Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dunia, turut memperburuk situasi.
>>> Ramalan Zodiak Cinta: Capricorn hingga Sagitarius, Kesabaran Kunci Harmoni
Konflik antara Israel dengan Palestina dan Lebanon Selatan juga terus berlanjut. Situasi ini meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor memburu aset safe haven seperti dolar AS.
"Perkembangan geopolitik tersebut membuat dolar AS menguat dan harga minyak mentah dunia ikut naik," ujar Ibrahim kepada Kontan, Senin (8/6/2026).
Selain faktor geopolitik, sentimen negatif terhadap rupiah juga datang dari data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan.
Data nonfarm payrolls (NFP) AS pada Mei tercatat bertambah 172.000 tenaga kerja, jauh di atas proyeksi pasar yang memperkirakan kenaikan sekitar 88.000 tenaga kerja.
Data tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.
Bahkan, pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.
"Dengan kondisi pasar tenaga kerja yang masih kuat, kemungkinan kebijakan suku bunga rendah dalam waktu dekat menjadi semakin kecil," kata Ibrahim.
>>> Unilever Indonesia Bagikan Dividen Rp7,63 Triliun, 100% dari Laba 2025
Ia menambahkan, tingginya inflasi global juga membuat banyak bank sentral cenderung mempertahankan sikap moneter yang ketat, termasuk The Fed.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.
Kondisi ini dapat memberikan tekanan tambahan terhadap neraca transaksi berjalan Indonesia dan memperbesar risiko pelebaran defisit fiskal.
Menurut Ibrahim, sejumlah indikator domestik juga perlu dicermati, termasuk tren inflasi yang mulai meningkat serta surplus neraca perdagangan yang menunjukkan tanda-tanda penyempitan.
"Kemarin data inflasi Indonesia kembali meningkat. Pada Juni ini inflasi juga berpotensi naik.
Neraca perdagangan masih surplus, tetapi surplusnya semakin menyempit," jelasnya.
Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan volatil dengan kecenderungan melemah.
>>> Gempa Magnitudo 7,8 Guncang Filipina Selatan, Peringatan Tsunami Dikeluarkan
"Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup di kisaran Rp 18.030 hingga Rp 18.100 per dolar AS," pungkasnya.
Update Terbaru
Runtuhnya Waduk Liulan Picu Sorotan soal Infrastruktur Bendungan China
Jumat / 24-07-2026, 05:29 WIB
Apindo Desak Moratorium Aturan Turunan Rokok, Dinilai Ancam PHK Massal
Jumat / 24-07-2026, 05:28 WIB
Mbappe Samai Rekor Langka Eusebio yang Bertahan 60 Tahun
Jumat / 24-07-2026, 05:25 WIB
DPRD Gowa Rampungkan Pansus Hak Angket, Bupati Terancam Dimakzulkan?
Jumat / 24-07-2026, 05:25 WIB
Garnacho Ungkap Alasan Gabung Aston Villa: Ingin Kembalikan Kepercayaan Diri
Jumat / 24-07-2026, 05:25 WIB
Lee Do-hyun dan WOODZ Resmi Bergabung di Film Nambeol Bareng Lee Byung-hun
Jumat / 24-07-2026, 05:20 WIB
Sinopsis Phir Bhi Dil Hai Hindustani di Mega Bollywood Paling Yahud Hari ini 24 Juli 2026 di ANTV
Jumat / 24-07-2026, 05:00 WIB
Sinopsis Shuddh Desi Romance Paagal di Mega Bollywood Paling Yahud
Jumat / 24-07-2026, 05:00 WIB
YAAMPUN! Asmara Gen Z Semakin Tergelincir, Inilah Program Televisi dengan Rating Terbaik Hari ini 24 Juli 2026
Jumat / 24-07-2026, 05:00 WIB
Sinopsis Escape Plan: The Extractors di Bioskop Trans TV Hari ini 24 Juli 2026
Jumat / 24-07-2026, 05:00 WIB
Sinopsis Lake Placid vs Anaconda di Bioskop Trans TV Hari ini 24 Juli 2026
Jumat / 24-07-2026, 05:00 WIB







