Hal ini tercermin dari meningkatnya elastisitas bunga kredit baru terhadap suku bunga kebijakan dari 0,40 menjadi 0,43 pada April 2026.

"Artinya, ketika BI Rate naik, bunga kredit baru berpotensi lebih cepat menyesuaikan, sehingga KKB akan makin sensitif pada semester II/2026," ungkap Josua.

>>> Indeks Nikkei Jepang Anjlok 4,6% Akibat Kecemasan Teknologi dan Geopolitik

Kondisi tersebut membuat kredit kendaraan semakin rentan terhadap kenaikan biaya dana, terutama ketika sebagian besar pembelian kendaraan nasional masih mengandalkan pembiayaan kredit.

Jika sekitar 70% transaksi kendaraan dilakukan melalui kredit, maka kenaikan bunga dan selektivitas pembiayaan akan langsung menekan penjualan kendaraan, khususnya pada segmen menengah bawah.

Di sisi lain, industri masih menghadapi tantangan besar.

Josua, mengutip Survei Perbankan BI mengungkapkan bahwa penyaluran kredit baru pada kuartal I/2026 tetap tumbuh, tetapi lebih rendah dibandingkan kuartal IV/2025 dengan standar penyaluran yang semakin ketat.

Pada saat yang sama, ekspektasi konsumen mulai lebih hati-hati meskipun indeks keyakinan konsumen masih berada pada level optimistis.

Risiko berikutnya datang dari pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan harga kendaraan dan suku cadang.

Jika tekanan tersebut berlanjut, bank dan multifinance diperkirakan akan semakin selektif menyetujui kredit baru, memperbesar uang muka, atau memperketat profil debitur yang dapat memperoleh pembiayaan.

Di tengah tekanan industri, sejumlah bank masih mencatat pertumbuhan pembiayaan kendaraan.

Consumer Funding & Wealth Business Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) Ivan Jaya mengatakan kredit kendaraan melalui KPM Prima hingga April 2026 masih tumbuh lebih dari 24% YoY.

Menurut dia, pencapaian tersebut diraih di tengah tekanan daya beli yang masih berlangsung pada awal tahun.