Indeks harga saham acuan Jepang, Nikkei, mengalami kemerosotan tajam pada perdagangan Senin (8/6/2026).

Indeks Nikkei 225 anjlok sebesar 4,6 persen ke level 63.747,83, mencatatkan penurunan harian terdalam dalam tiga bulan terakhir.

>>> IHSG Ambles ke 5.389, Saham Big Banks Kompak Merosot

Indeks Topix yang lebih luas juga ikut tergelincir 3,08 persen ke posisi 3.827,63.

Kejatuhan bursa Tokyo mengekor performa buruk Wall Street, di mana saham teknologi AS berguguran setelah rilis laporan ketenagakerjaan Mei memicu kekhawatiran kebijakan moneter ketat.

Kondisi pasar kian diperparah oleh lonjakan harga minyak dunia setelah serangan udara Israel ke Beirut dibalas salvo rudal dari Iran.

Meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan ketegangan tersebut tidak memengaruhi negosiasi damai dengan Teheran, investor tetap memilih mengamankan aset ke tempat yang lebih aman.

>>> Kurs Dolar AS Tembus Rp 18.132 pada Senin 8 Juni 2026

Sektor Teknologi dan Geopolitik Menjadi Beban

"Selain penurunan pada saham-saham terkait teknologi, peningkatan risiko geopolitik global juga tampaknya menjadi beban berat bagi pasar saat ini," ujar Maki Sawada, pakar strategi ekuitas di Nomura Securities.

Tekanan di pasar keuangan juga membuat mata uang Yen terpuruk di atas level 160 per dolar AS dan merontokkan harga obligasi pemerintah Jepang karena kekhawatiran inflasi dari luar negeri.

Data domestik terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jepang kehilangan momentum pada kuartal Januari-Maret akibat krisis Timur Tengah.

Kejatuhan indeks Nikkei utamanya diseret oleh saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor.

>>> Ehsan Hajsafi Desak FIFA Selesaikan Masalah Visa Timnas Iran

Emiten produsen wafer silikon Sumco Corp memimpin kejatuhan dengan anjlok 13 persen, diikuti Renesas Electronics yang merosot 12,1 persen, serta Kioxia Holdings yang jatuh 11,4 persen.