Dia menjelaskan kelompok perbankan yang memiliki keterkaitan erat dengan perusahaan pembiayaan otomotif, dealer, atau skema pembiayaan bersama akan merasakan tekanan lebih besar secara proporsional.

Sebaliknya, bagi bank besar universal, dampaknya cenderung terbatas pada perlambatan pertumbuhan kredit ritel dan pendapatan berbasis komisi.

Tekanan terbesar juga terjadi pada pembiayaan mobil roda empat.

Dia mengatakan, produk ini memiliki nilai transaksi lebih tinggi, keputusan pembelian yang lebih mudah ditunda, serta sensitivitas lebih besar terhadap perubahan bunga dan pendapatan rumah tangga.

Sebaliknya, Josua menyebut bahwa kredit sepeda motor dinilai relatif lebih bertahan karena masih berkaitan langsung dengan kebutuhan mobilitas produktif masyarakat dan pelaku usaha kecil.

Meski demikian, Josua menilai bahwa pelemahan kredit kendaraan belum cukup mengubah arah industri perbankan secara keseluruhan.

Kontribusi kredit kendaraan terhadap total kredit nasional masih lebih kecil dibandingkan kredit korporasi, modal kerja, maupun kredit perumahan.

"Karena itu, kontraksi KKB sebesar 9% belum cukup untuk mengubah arah kinerja perbankan secara keseluruhan selama kredit segmen lain tetap tumbuh," tuturnya.

Namun, Josua mengingatkan kontribusi segmen ini terhadap laba dapat lebih besar daripada porsinya terhadap total kredit.

Pembiayaan kendaraan umumnya menawarkan margin lebih tinggi serta menghasilkan pendapatan tambahan dari administrasi, asuransi, dan kerja sama dealer.

Tekanan Berpotensi Berlanjut pada Semester II/2026

Adapun, tekanan berpotensi berlanjut pada semester II/2026 setelah BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%.

Josua menuturkan, otoritas moneter memang tetap menjaga kebijakan makroprudensial longgar melalui KLM agar kredit sektor prioritas tetap berjalan, dengan insentif KLM yang besar kepada bank.

Kendati begitu, transmisi suku bunga ke kredit konsumsi kini semakin cepat.