Pelemahan kredit kendaraan bermotor yang kian dalam menjadi sinyal bahwa pemulihan konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya solid.

Meskipun kredit perbankan secara umum masih tumbuh, pembiayaan kendaraan justru terus menyusut.

>>> Kemenpar Integrasikan AI untuk Hadapi Tantangan Informasi Pariwisata

Hal ini menandakan masyarakat semakin berhati-hati mengambil cicilan besar di tengah tekanan daya beli dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

Berdasarkan Analisis Uang Beredar yang dirilis Bank Indonesia (BI), kredit kendaraan bermotor pada April 2026 terkontraksi 9,0% secara tahunan (YoY).

Angka ini lebih dalam dibandingkan kontraksi 8,9% YoY pada Maret 2026.

Pelemahan yang berlangsung beruntun ini menunjukkan permintaan pembiayaan kendaraan masih tertahan. Padahal, industri perbankan secara agregat tetap mencatat pertumbuhan kredit.

Tekanan pada Segmen Barang Tahan Lama

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kontraksi tersebut mencerminkan tekanan yang lebih mendasar pada segmen pembiayaan barang tahan lama.

Menurutnya, masalah utama bukan berasal dari melemahnya fungsi intermediasi perbankan secara keseluruhan, melainkan dari konsumen yang menunda keputusan pembelian kendaraan.

"Tekanan ini wajar karena kendaraan bermotor sangat sensitif terhadap cicilan, uang muka, keyakinan pendapatan, harga kendaraan, dan prospek ekonomi rumah tangga," ujar Josua kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (7/6/2026).

Menurut Josua, kondisi tersebut terlihat dari fakta bahwa permintaan kredit kendaraan tetap terbatas meskipun suku bunga kredit sempat menurun sebelum kenaikan BI Rate pada Mei 2026.

Situasi itu menunjukkan hambatan utama bukan lagi sekadar bunga pinjaman, melainkan kombinasi tekanan daya beli dan meningkatnya kehati-hatian konsumen.

Dampak pelemahan itu tidak merata bagi industri perbankan.

Josua menilai, bank yang memiliki porsi pembiayaan kendaraan besar dalam portofolio kreditnya lebih rentan dibandingkan bank yang memiliki diversifikasi bisnis lebih luas ke segmen korporasi, modal kerja, dan transaksi.