Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat dalam beberapa bulan terakhir.

Secara year-to-date, IHSG telah merosot hingga 35,52 persen dan berada di level 5.594,77 poin.

>>> IHSG Anjlok 3,4% di Sesi I, Saham BBCA Justru Diborong Investor Domestik

Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran global terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik. Minat investasi pada aset berisiko di negara berkembang juga menurun.

Dalam satu hari perdagangan, IHSG tercatat jatuh 245,02 poin atau setara 4,20 persen.

Akumulasi pelemahan dalam sebulan terakhir mencapai 21,05 persen, dan dalam enam bulan mencapai 35,39 persen.

Modal Asing Keluar dan Sentimen Global

Keluarnya modal asing dari pasar domestik turut memperburuk situasi. Investor beralih ke instrumen yang lebih aman seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat.

>>> Korlantas Polri Tunda Operasi Patuh 2026 Demi Hari Bhayangkara

Sentimen negatif juga terlihat pada MSCI Emerging Markets Index. Pelemahan ini berdampak langsung pada MSCI Indonesia Index yang berisi saham unggulan berkapitalisasi besar dan menengah.

Kondisi koreksi pasar memunculkan reaksi beragam dari pelaku pasar. Analisis fundamental digunakan untuk melihat peluang atau risiko investasi.

Investor legendaris Warren Buffett pernah mengatakan, "Berhati-hatilah ketika orang lain serakah, dan mulailah mencari peluang ketika orang lain ketakutan."

Penurunan IHSG dipengaruhi oleh kombinasi faktor global seperti pengetatan kebijakan suku bunga tinggi. Dinamika aktivitas ekonomi domestik juga ikut berperan.

>>> Kemensos Buka 8.180 Formasi PPPK Guru dan Tendik Sekolah Rakyat 2026

Kondisi ini menuntut sektor usaha untuk memperkuat manajemen risiko, menjaga stabilitas arus kas, dan menegakkan tata kelola perusahaan yang baik.