Kementerian Luar Negeri Iran secara resmi menyatakan Amerika Serikat memikul tanggung jawab langsung atas pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel di Lebanon pada Senin (8/6/2026).

Pihak Iran menilai Washington turut bertanggung jawab atas segala konsekuensi dan eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.

>>> Rupiah Melemah ke Rp18.126 per Dolar AS pada 8 Juni 2026

Pernyataan tersebut dirilis melalui saluran resmi Telegram Kementerian Luar Negeri Iran, sebagaimana dilansir dari Investor Daily yang mengutip Sputnik.

Langkah diplomatis ini menyusul meningkatnya tensi militer di perbatasan Lebanon setelah Israel melancarkan serangan udara ke kawasan permukiman padat di pinggiran selatan Beirut.

Serangan Udara Israel di Beirut Selatan

Serangan udara Israel menghantam dua apartemen di Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut, yang diklaim sebagai balasan atas serangan roket dan drone kelompok Hizbullah.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah dicapai melalui pembicaraan di Washington pada 16 April 2026, kondisi di lapangan dilaporkan belum stabil.

>>> Pengamat: Pengadaan Migas BUMN Tanpa Tender Berpotensi Moral Hazard

Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa Israel terus melancarkan serangan harian ke puluhan permukiman di Lebanon selatan dan mempertahankan kendali tembakan di wilayah perbatasan.

Sebagai respons, Hizbullah kembali melancarkan operasi militer terhadap pasukan Israel.

Sebelumnya, pada Minggu (7/6/2026) malam, Iran juga sempat meluncurkan sejumlah rudal ke arah Israel utara sebagai bentuk balasan atas serangan udara yang menyasar pinggiran Beirut.

>>> Telkom Raup Rp10,16 Triliun dari Pendapatan Non-Ritel pada Kuartal I 2026

Konflik berkepanjangan ini tercatat terus meningkat sejak agresi militer yang memanas pada awal Maret 2026.