Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026.

Berdasarkan data analis Doo Financial Futures, mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 0,39 persen ke level Rp18.126 per dolar AS.

>>> Pengamat: Pengadaan Migas BUMN Tanpa Tender Berpotensi Moral Hazard

Pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya.

Yen Jepang turun 0,04 persen, dolar Taiwan melemah 0,43 persen, dan peso Filipina terdepresiasi 0,33 persen.

Ringgit Malaysia jatuh 0,94 persen dan baht Thailand melemah 0,19 persen.

Sementara itu, dolar Singapura menguat tipis 0,01 persen dan won Korea naik 0,52 persen.

Rupee India berhasil menguat 0,89 persen dan yuan China naik 0,07 persen. Pergerakan dolar Hong Kong dilaporkan stagnan.

>>> Telkom Raup Rp10,16 Triliun dari Pendapatan Non-Ritel pada Kuartal I 2026

Penyebab Pelemahan Rupiah

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan bahwa penguatan dolar AS dipicu oleh rilis data pekerjaan nonfarm payrolls (NFP) yang melampaui ekspektasi pasar.

Selain itu, lonjakan harga minyak mentah global akibat ketegangan geopolitik baru di Timur Tengah turut menekan rupiah.

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia membutuhkan lebih banyak devisa untuk impor energi.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS NFP lebih baik dari perkiraan.

Harga minyak yang kembali naik akibat eskalasi baru di Timur Tengah juga ikut menekan rupiah," ujar Lukman Leong.

>>> Indeks Bisnis-27 Anjlok 3,44 Persen pada Pembukaan Perdagangan

Sepanjang perdagangan hari ini, fluktuasi rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS.