Psikolog Ingatkan Dampak Buruk Game Online bagi Anak
Di era digital, anak-anak semakin akrab dengan gawai. Aktivitas bermain kini tidak hanya berupa interaksi langsung, tetapi juga merambah ke game online.
Psikolog Klinis dan Keluarga Pritta Tyas menjelaskan bahwa bermain fisik dan game online memberikan stimulasi yang sangat berbeda bagi perkembangan anak.
>>> Dejan Lovren: Mohamed Salah Seharusnya Bertahan di Liverpool
Bermain dengan objek nyata, seperti menyusun balok, melatih kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah. Anak belajar mencari solusi alternatif dan mengatasi hambatan.
"Ketika anak melihat hamparan Lego bricks di depannya, dia bisa mencari beberapa alternatif cara untuk menyelesaikan suatu masalah.
Itu yang melatih kreativitas," kata Pritta dalam acara Lego Playground "Main dan Jadi Hebat" di Grand Indonesia East Mall, Jakarta.
Proses ini juga menumbuhkan resiliensi atau ketangguhan. Anak memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari perjalanan menuju target yang lebih besar.
"Kalau kita ingin anak tangguh, itu sebenarnya sangat bisa dibentuk perlahan-lahan lewat bermain," ujarnya.
Aktivitas fisik juga merangsang kemampuan visual spasial, yang berguna untuk karier di industri kreatif seperti arsitek atau desainer.
Batasan Akses Digital dan Fenomena Popcorn Brain
Pritta tidak sepenuhnya menolak teknologi digital, tetapi menekankan pengurangan waktu bermain game online.
>>> Bengkel Motor Listrik Hadapi Kendala Penanganan Limbah Baterai Lithium
"Saya tidak against digital. Digital kan macam-macam.
Tapi kalau game online itu sebaiknya sebisa mungkin waktunya dikurangi," tuturnya.
Orang tua harus menyesuaikan akses game online dengan usia dan perkembangan emosional anak. Menurut Pritta, anak baru siap bermain game online paling cepat usia 15-16 tahun.
Dampak buruk game online berlebihan adalah munculnya kecenderungan anak mencari stimulasi instan, yang dapat mengganggu fokus dan pola tidur.
Kondisi ini disebut popcorn brain, saat otak anak terbiasa menerima rangsangan cepat secara konstan.
Anak tetap membutuhkan waktu bergerak aktif dan bersosialisasi langsung. Untuk anak usia dini hingga 8 tahun, bermain dengan benda fisik lebih disarankan daripada hiburan digital.
>>> Gempa Beruntun Guncang Bener Meriah dan Sinabang, Satu Masjid Rusak
"Peran orangtua bukan membatasi untuk menimbulkan resistensi dari anak, tetapi peran orangtua harus tahu tahapan perkembangan anak saya ada di mana, butuhnya dia digitalnya apa, butuhnya dia hands-on learning-nya apa, dan (orangtua) bisa mendampingi," tutup Pritta.
Update Terbaru
OpenAI Luncurkan Lockdown Mode di ChatGPT untuk Cegah Serangan Siber
Senin / 08-06-2026, 09:12 WIB
Trump Tegaskan Tak Akan Cairkan Aset Iran Sebelum Kesepakatan Damai
Senin / 08-06-2026, 09:12 WIB
Kebiasaan Buruk Pengemudi yang Merusak Baterai Mobil Hybrid dan Listrik
Senin / 08-06-2026, 09:09 WIB
OJK: Sektor Perdagangan Besar Dominasi Pembiayaan Multifinance
Senin / 08-06-2026, 09:09 WIB
Andoni Iraola Buka Peluang Darwin Nunez Kembali ke Liverpool
Senin / 08-06-2026, 09:08 WIB
Raisa Kejutkan Penonton dengan Sung Si-kyung di Konser JCC
Senin / 08-06-2026, 09:08 WIB
Samsung Batasi Update One UI 8.5 untuk Galaxy S22 dan Perangkat Lawas
Senin / 08-06-2026, 09:04 WIB
9 Cara Mengenali Orang Cerdas dari Sikap Menyebalkannya Menurut Pakar
Senin / 08-06-2026, 09:04 WIB
Korlantas Polri Gelar Operasi Patuh 2026 untuk Tertibkan Manipulasi ETLE
Senin / 08-06-2026, 09:04 WIB
Kate Middleton Bertemu Mantan Pacar di Pernikahan Kerajaan
Senin / 08-06-2026, 09:04 WIB
BEI Suspensi Saham MMIX Mulai Senin, Harga Melonjak 234%
Senin / 08-06-2026, 09:04 WIB
IHSG dan Rupiah Tertekan, IPOT Rekomendasikan Saham TINS, CUAN, dan KETR
Senin / 08-06-2026, 09:04 WIB
Honor Pad X8b Resmi Dijual di Indonesia, Harga Mulai Rp2,9 Juta
Senin / 08-06-2026, 09:00 WIB
Borneo FC Samarinda Putus Kerja Sama dengan Pelatih Fabio Lefundes
Senin / 08-06-2026, 09:00 WIB






