Pemandangan anak kecil mempromosikan produk di media sosial kini makin lazim. Di balik kelucuan mereka, muncul pertanyaan etis: di mana batas antara berekspresi dan eksploitasi?

Fenomena ini dikenal sebagai kidfluencer, di mana anak-anak menjadi pusat konten komersial. Orang tua sering menjadi pengelola akun, perlahan mengaburkan batas antara album keluarga dan ruang komersial.

>>> Lena The Plug: Pelaku Palsu Gugat Cerai Kembali Kirim Dokumen ke Adam22

Peran Orang Tua dan Regulasi

Asisten Deputi KemenPPPA, Ciput Eka Purwiyati, mengakui banyak akun media sosial anak dibuat oleh orang tua.

Hal ini menjadi dasar lahirnya PP TUNAS yang mengatur perlindungan anak di ruang digital.

PP TUNAS mendorong platform mendeteksi akun anak melalui algoritma, bukan hanya usia pendaftaran. Regulasi ini mencakup risiko konten, kontak, profiling data, dan perlindungan data pribadi anak.

Prancis melangkah lebih jauh dengan UU yang mewajibkan orang tua melindungi hak privasi anak. Hakim bahkan bisa melarang unggahan foto anak jika merugikan hak mereka.

Kapan Konten Anak Berubah Menjadi Eksploitasi?

Menurut Ciput, begitu ada keuntungan dari konten anak, itu sudah masuk eksploitasi ekonomi. Risikonya meliputi pencurian foto, penyalahgunaan data, hingga ancaman pedofil.

>>> Timnas Putri Indonesia Back-to-Back Juara Piala AFF 2026, Erick Thohir Angkat Topi

Mantan Komisioner KPAI, Titik Haryati, mencontohkan anak balita yang mempromosikan skincare. Ia menilai hal itu melanggar UU Perlindungan Anak dan menggerus hak privasi serta tumbuh kembang anak.

Ketua KPAI, Aris Adi Leksono, menekankan bahwa ukuran etis bukan pada ada tidaknya bayaran, melainkan substansi konten.

Jika konten mengganggu privasi, merendahkan martabat, atau mengabaikan hak anak, maka tidak etis.

Batas etis dapat dilihat dari apakah privasi anak terlindungi, martabat dihormati, dan hak bermain, belajar, serta istirahat terpenuhi.

Jika dilanggar, berpotensi menjadi eksploitasi.

>>> Arsenal Konfirmasi William Saliba Absen Lama akibat Cedera Punggung

Pertanyaan tentang etis tidaknya anak menerima endorsement tidak memiliki jawaban hitam putih. Yang terpenting adalah apakah kepentingan terbaik anak tetap menjadi prioritas di atas popularitas dan keuntungan.