Ketidakpastian ekonomi kembali menjadi perhatian masyarakat pada 2026.

Nilai tukar rupiah yang berfluktuasi, tekanan inflasi, hingga kekhawatiran perlambatan ekonomi membuat banyak orang mencari instrumen yang dianggap aman.

>>> Nasabah Bank Jago Kehilangan Rp25 Juta, Transaksi Asing Misterius Picu Keluhan di Media Sosial

Salah satu pilihan yang kembali dilirik adalah deposito bank. Berbeda dengan investasi berisiko tinggi, deposito menawarkan kepastian imbal hasil dan risiko yang relatif rendah.

Deposito merupakan produk simpanan berjangka dengan tenor 1 hingga 12 bulan atau lebih.

Nasabah mendapatkan bunga lebih tinggi dari tabungan biasa, namun dana tidak bisa ditarik bebas tanpa penalti.

Mengapa Deposito Kembali Dilirik?

Saat ekonomi tidak menentu, banyak investor menghindari instrumen fluktuatif dan memilih aset yang stabil.

Deposito memiliki keunggulan: nilai pokok aman, imbal hasil pasti, tidak terpengaruh pasar saham, cocok untuk dana darurat, dan dijamin LPS.

Bagi sebagian masyarakat, deposito menjadi alternatif parkir dana sambil menunggu situasi ekonomi lebih stabil.

Kelebihan Deposito di Era Ekonomi Saat Ini

Risiko sangat rendah menjadi alasan utama deposito diminati. Nilai pokok tetap terjaga selama bank memenuhi ketentuan penjaminan.

Deposito memberikan kepastian imbal hasil. Nasabah sudah tahu bunga yang akan diterima hingga jatuh tempo, memudahkan perencanaan keuangan.

Produk ini juga membantu menahan keinginan belanja karena dana tidak bisa ditarik sewaktu-waktu. Secara tidak langsung, deposito membangun disiplin keuangan.

Deposito cocok untuk menyimpan dana sementara, misalnya untuk uang muka rumah, biaya pendidikan, atau modal usaha dalam beberapa bulan ke depan.

Kekurangan Deposito yang Perlu Dipertimbangkan

Potensi keuntungan deposito terbatas dibanding instrumen berisiko lebih tinggi. Dalam jangka panjang, pertumbuhan dana biasanya tidak sebesar investasi pada aset produktif.