OECD Proyeksikan Defisit Anggaran Indonesia Melebar ke 3 Persen pada 2026
Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperkirakan defisit anggaran Indonesia akan melebar hingga 3,0 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2026.
Angka tersebut naik dari estimasi defisit tahun 2025 yang sebesar 2,9 persen PDB. Pelebaran ini dipicu oleh potensi pembengkakan pengeluaran fiskal, terutama dari subsidi energi.
>>> Pekerja Pemugaran Candi Losari Magelang Temukan Kepingan Logam Diduga Emas
Dalam laporan OECD Economic Outlook edisi Juni 2026 yang dikutip Minggu (7/6/2026), lembaga tersebut menyebut fluktuasi harga minyak mentah dunia menjadi risiko utama.
"Kenaikan harga minyak diperkirakan menambah defisit sebesar 0,6% PDB melalui peningkatan subsidi energi apabila pembekuan harga BBM dipertahankan," tulis OECD.
Tekanan Fiskal dan Upaya Pemerintah
Kondisi eksternal tersebut berpotensi mempersempit ruang fiskal di tengah upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat dan memacu pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, OECD menilai pemerintah Indonesia tetap berkomitmen menjaga defisit agar tidak melampaui batas aman undang-undang sebesar 3 persen PDB.
Langkah penyeimbang berupa efisiensi belanja di sektor non-prioritas dan optimalisasi penerimaan negara, khususnya dari komoditas, diperkirakan akan ditempuh.
>>> BRIDS Turunkan Proyeksi IHSG, BBCA Jadi Pilihan Saham Pilihan
Kebijakan fiskal Indonesia pada 2026 diprediksi tetap ekspansif.
Selain subsidi energi, belanja negara diarahkan untuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung Presiden Prabowo Subianto.
OECD juga melihat peluang besar dari investasi melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai penopang pertumbuhan di luar APBN.
Belanja modal lewat Danantara diperkirakan mampu menggerakkan investasi tanpa memberi tekanan fiskal langsung pada anggaran negara.
>>> Pramono Anung: CFD Rasuna Said Berpotensi Jadi Landmark Baru Jakarta
Untuk menekan biaya fiskal ke depan, OECD mendorong pemerintah meningkatkan efisiensi penyaluran subsidi energi agar lebih tepat sasaran, dengan memprioritaskan kelompok rentan.
Update Terbaru
Eks Personel St. Loco Sukses Racik Sambal Babon Usai Rehabilitasi
Minggu / 07-06-2026, 17:13 WIB
Timnas Indonesia U-19 Wajib Tekuk Vietnam demi Tiket Semifinal
Minggu / 07-06-2026, 17:12 WIB
PPIH Arab Saudi Berangkatkan 5.499 Jemaah Haji Gelombang Kedua ke Madinah
Minggu / 07-06-2026, 17:12 WIB
Veda Ega Pratama Finis Posisi 16 di Moto3 Hungaria 2026 Akibat Penalti
Minggu / 07-06-2026, 17:12 WIB
Ilmuwan Ungkap Gaya Hidup Rahasia Umur Panjang Maria Branyas Morera
Minggu / 07-06-2026, 17:09 WIB
SBS Umumkan Drama Korea Nine to Six, Yook Sungjae dan Park Min Young Jadi Pemeran Utama
Minggu / 07-06-2026, 17:08 WIB
IHSG Berpotensi Volatil Dipicu Net Sell Asing Rp 61,3 Triliun
Minggu / 07-06-2026, 17:08 WIB
Saham Merdeka Copper Gold Jadi Unggulan Trading Pekan Ini, Target Rp 2.660
Minggu / 07-06-2026, 17:08 WIB
Cara Mudah Cek Bansos BPNT Melalui Kantor Lurah
Minggu / 07-06-2026, 17:04 WIB
Prabowo Resmikan Sekolah Rakyat di Bali untuk Tingkatkan Kesejahteraan
Minggu / 07-06-2026, 17:03 WIB
Maximo Quiles Juara Moto3 Hungaria 2026, Veda Ega Finis ke-15
Minggu / 07-06-2026, 17:00 WIB
IEA Minta Pemerintah Batalkan Wacana Penahanan Restitusi Pajak Rp 361 Triliun
Minggu / 07-06-2026, 17:00 WIB
Kedatangan Anthony Gordon Persulit Status Permanen Marcus Rashford di Barcelona
Minggu / 07-06-2026, 16:59 WIB
Veda Ega Pratama Finis Posisi Ke-16 di Moto3 Hongaria 2026
Minggu / 07-06-2026, 16:58 WIB






