"Indeks dolar ini kemungkinan besar dalam satu pekan ke depan akan ditransaksikan di support 99,00, kemudian resisten di 101,00.

Artinya ada kemungkinan indeks dolar kembali menguat tajam," terang Ibrahim.

Penguatan dolar AS dipastikan berdampak signifikan terhadap kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah.

Gejolak politik di Timur Tengah dan Eropa Timur diproyeksikan masih menjadi sumber volatilitas pasar global hingga beberapa tahun ke depan.

Kondisi ini memicu risiko tingginya harga minyak dunia, terutama jika terjadi hambatan distribusi di Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran energi utama.

Kenaikan harga minyak global menambah beban perekonomian domestik karena membengkaknya kebutuhan devisa untuk impor energi.

Imbas pelemahan rupiah juga membuat sebagian masyarakat mulai mengalihkan kepemilikan dana ke aset berbasis dolar AS untuk mengamankan nilai kekayaan.

Ibrahim memproyeksikan skenario ekstrem di mana kurs rupiah berisiko merosot hingga Rp25.000 per dolar AS pada akhir 2026 jika pemblokiran Selat Hormuz benar-benar terjadi.

>>> Warga Seoul Tuntut Pemungutan Suara Ulang Akibat Kelangkaan Surat Suara

"Tetapi kalau seandainya berakhirnya nanti di akhir tahun ya berarti tahun 2027 akhir baru akan ada perbaikan-perbaikan, sehingga harga rupiah di Rp25.000 (pada akhir 2026) sangat wajar sekali," pungkas Ibrahim.