Nilai tukar rupiah diproyeksikan mengalami pelemahan jangka pendek dan berpotensi menembus level Rp19.000 per dolar AS pada akhir Juni 2026.

Proyeksi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, seperti dilansir dari Investasi pada Minggu (7/6/2026).

>>> Cara Cek Penerima PIP Juni 2026 Secara Online Menggunakan NISN

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (5/6/2026), rupiah di pasar spot ditutup menguat tipis 0,07 persen secara harian ke posisi Rp18.036 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menetapkan rupiah pada level Rp18.039 per dolar AS, stabil dari perdagangan sebelumnya.

Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan berada di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.250 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah dapat membesar jika konflik bersenjata di Timur Tengah terus berlanjut dan ekspektasi pasar terhadap suku bunga AS tetap tinggi.

"Dan kalau gejolak geopolitik ini masih akan terus berlangsung, kemudian spekulasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi atau menaikkan suku bunga, di akhir Juni ini rupiah kemungkinan besar 99,99% itu akan di 19.000," ujar Ibrahim.

Menurut Ibrahim, eskalasi militer yang melibatkan AS dan Iran menjadi pemicu meningkatnya tensi di Timur Tengah.

Ketidakpastian pasar global diperpanjang oleh konflik Israel dengan kelompok di Gaza dan Lebanon Selatan.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang berada di level 100,07 berpotensi menguat tajam dalam sepekan ke depan karena data ekonomi AS yang solid dan ketegangan politik dunia.

>>> Jadwal Siaran Langsung Indonesia U19 vs Vietnam U19 di Piala AFF U19 2026