Pendapat kedua datang dari Sejarawan Richard W. Redding dalam The Pig and the Chicken in the Middle East (2015).

Redding tidak sepenuhnya sepakat dengan Harris, tetapi membenarkan bahwa babi membutuhkan banyak air.

Kebutuhan air yang besar menjadi hambatan bagi masyarakat nomaden Arab. Babi tidak cocok untuk dibawa berpindah-pindah karena memerlukan pasokan air yang melimpah.

Bagi Redding, faktor utama hilangnya babi adalah kemunculan ayam. Ayam dianggap lebih mudah dirawat, hanya membutuhkan 3.500 liter air untuk menghasilkan 1 kg daging.

Ukurannya yang kecil membuatnya bisa langsung dihabiskan tanpa sisa, berbeda dengan babi yang cenderung terbuang karena belum ada sistem pengawetan.

Ayam juga menghasilkan telur sebagai sumber protein tambahan. Dengan pertimbangan tersebut, masyarakat Arab lebih memilih beternak ayam daripada babi.

>>> Ciputra Artpreneur Hadirkan The Lion King Live in Concert di Jakarta

Sejak saat itu, babi perlahan ditinggalkan sebagai hewan ternak. Meskipun tidak sepenuhnya hilang karena masih ada warga Timur Tengah yang mengonsumsinya.