Yusuf menambahkan bahwa terdapat beberapa faktor yang saling berkaitan dan menjadi penyebab tertekannya nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Faktor pertama berkaitan erat dengan masalah kepercayaan pasar.

>>> Raymond/Nikolaus Tembus Final Indonesia Open 2026 Usai Kalahkan Unggulan

Revisi outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh lembaga pemeringkat Moody's pada Februari 2026 memicu keraguan pasar.

Investor mulai mempertanyakan prediktabilitas kebijakan serta kualitas tata kelola pemerintahan.

"Oleh karena itu, isu yang berkembang bukan lagi apakah Indonesia mampu tumbuh, melainkan apakah kredibilitas kebijakannya masih cukup kuat untuk menjaga kepercayaan investor," kata Yusuf.

Faktor kedua adalah timbulnya arus modal asing keluar dalam jumlah besar dari pasar saham maupun pasar obligasi domestik.

Kondisi ini dipicu oleh permintaan investor akan premi risiko yang lebih tinggi.

Permintaan premi risiko yang meningkat tersebut secara simultan memberikan tekanan berat pada pergerakan rupiah, pasar saham, serta surat utang negara.

Faktor ketiga datang dari situasi eksternal global yang ikut memperberat kondisi perekonomian domestik.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan tingginya harga minyak dunia menjadi sentimen negatif bagi Indonesia sebagai negara pengimpor energi.

Dalam menghadapi situasi tersebut, Bank Indonesia mengambil langkah dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25%.

Kebijakan ini dinilai lebih bersifat defensif untuk mengawal stabilitas nilai tukar daripada merespons laju inflasi.

Langkah defensif ini diambil karena tingkat inflasi domestik saat ini sebenarnya masih relatif terkendali.

>>> Pemerintah Matangkan Proyek PLTS 100 GW untuk Transisi Energi

Fokus utama kebijakan otoritas moneter kini lebih diarahkan untuk mempertahankan kepercayaan pasar global terhadap aset keuangan Indonesia.