Asosiasi Hotel Mataram (AHM) memprotes aksi promosi bermuatan konten vulgar yang dilakukan oleh sejumlah akomodasi hotel melati di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Langkah pemasaran tersebut dikhawatirkan merusak citra daerah sebagai destinasi wisata ramah semua kalangan.

>>> Bank Mandiri Salurkan KUR Juni 2026 dengan Bunga 6 Persen

Ketua AHM Mataram, Made Adiyasa, menyatakan bahwa konten pemasaran yang menjadi viral di media sosial itu telah melampaui batas kewajaran bisnis perhotelan.

Narasi yang diangkat secara vulgar dinilai bertentangan dengan norma kesusilaan.

"Sebagai organisasi yang menaungi perkumpulan hotel, ya sayang banget cara promosinya. Menurut kita sudah kebablasan.

Kenapa tidak promosi yang lebih santun, lebih bijaklah," kata Made Adiyasa.

Pihak asosiasi juga menegaskan bahwa pengelola akomodasi yang mengunggah konten vulgar tersebut bukan anggota AHM.

"Bukan anggota AHM," tegasnya.

>>> 5 Kebiasaan Pagi yang Harus Dihindari demi Jantung Sehat

Kekhawatiran muncul terkait dampak jangka panjang dari strategi pemasaran negatif ini bagi sektor pariwisata lokal.

Apalagi momentum saat ini bertepatan dengan pertengahan tahun saat industri bersiap menyambut musim liburan.

"Tidak semua orang tujuannya masuk ke hotel itu disamaratakan. Jadi itu yang kami khawatirkan, ini adalah promosi negatif untuk kota kita," kata Made Adiyasa.

Sebelumnya, puluhan video pemasaran dari beberapa hotel melati di Kota Mataram mendadak viral di aplikasi TikTok dan memicu kegaduhan masyarakat.

Pengelola hotel mempromosikan kamar dengan jaminan keamanan dari razia serta menggunakan diksi yang menjurus pada aktivitas seksual bebas.

Salah satu akomodasi di Jalan Pejanggik bahkan membandingkan aktivitas seksual di ruang terbuka dengan kenyamanan menginap di kamar bertarif Rp 170 ribu tanpa takut digerebek.

>>> FIFA Larang Vuvuzela dan Botol Air Isi Ulang di Piala Dunia 2026

AHM kini mengimbau pelaku usaha perhotelan tetap mengedepankan etika pariwisata demi menjaga iklim bisnis yang sehat di Kota Mataram.