Pejabat Amerika Serikat sedang mempertimbangkan serangan militer terhadap Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda di Mali.

Informasi ini diungkapkan oleh pejabat saat ini dan mantan pejabat pada 22 Juli 2026.

>>> Mitch Keller Hadapi Gerrit Cole di Final Seri Pirates vs Yankees

Jika disetujui, operasi ini akan menjadikan Mali sebagai negara kedelapan yang menjadi sasaran serangan militer AS selama masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.

Negara lain yang sudah menjadi target termasuk Yaman, Somalia, Suriah, Iran, Irak, Nigeria, dan Venezuela.

Dorongan dari Gedung Putih

Direktur Senior Dewan Keamanan Nasional untuk Kontraterorisme, Sebastian Gorka, secara aktif mendorong intervensi di Afrika Barat.

Namun, para pakar regional memperingatkan agar tidak meluncurkan operasi bersenjata langsung di koridor Sahel.

>>> Valencia Kalahkan Eldense 3-0 di Laga Uji Coba Pramusim

Peneliti Senior Soufan Center, Wassim Nasr, menyarankan Washington fokus pada negosiasi diplomatik daripada kekuatan militer.

"Memilih solusi militer sekali lagi tidak akan menyelesaikan masalah," kata Nasr.

"Prancis telah mencobanya selama 10 tahun. Rusia juga telah mencoba selama lima tahun.

>>> Lynx Kalahkan Storm 105-102 Berkat Duet McBride dan Miles

Situasinya justru semakin buruk."