Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengajukan anggaran rekor sebesar $1,5 triliun untuk tahun fiskal 2027, termasuk $67,1 miliar dalam pendanaan tambahan darurat.

Langkah ini diambil setelah persediaan senjata utama militer AS menipis akibat operasi militer yang berkelanjutan.

>>> Tony Iommi Kenang Ozzy Osbourne Setahun Setelah Kepergiannya

Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyampaikan hal tersebut di hadapan Komite Alokasi Senat pada 21 Juli 2026.

Ia mengungkapkan bahwa stok senjata seperti Patriot, THAAD, Standard Missile-3, dan Precision Strike Missiles telah turun hingga 50 persen atau lebih dari level sebelum perang.

Analisis dari Center for Strategic and International Studies mendukung pernyataan tersebut.

Kritik dari Anggota Kongres

Anggota Kongres dari Partai Demokrat dan Republik menyuarakan penolakan terhadap biaya militer yang terus membengkak.

Senator Gary Peters, seorang Demokrat, mengatakan, "Sekretaris Hegseth, meskipun Anda gagal memenangkan perang ini, Anda kembali ke Kongres untuk meminta tambahan dana hampir $70 miliar."

Ia menambahkan, "Anda meminta cek kosong dari rakyat Amerika."

Senator Republik John Kennedy juga menuntut jawaban yang jelas.

Anggaran yang diusulkan Pentagon untuk tahun fiskal 2027 melonjak 44 persen dari tingkat pengeluaran tahunan, setelah rekor $1,05 triliun pada 2026 dan $919,2 miliar pada 2025.

>>> Gubernur West Virginia Nyatakan Darurat Banjir Bandang

Hegseth membela permintaan besar tersebut sebagai hal penting untuk mencegah gangguan operasional.

Paul Musgrave, profesor di Georgetown University di Qatar, mendukung pernyataan Hegseth.

"Amerika Serikat perlu mengisi kembali persenjataannya karena amunisi dan badan pesawat yang digunakan dalam konflik ini harus diganti," kata Musgrave.

Hegseth memperingatkan bahwa kegagalan Kongres menyetujui dana darurat dan anggaran 2027 akan membahayakan kesiapan pertahanan global.

Tanpa persetujuan, AS akan menghadapi kekurangan kritis yang mengancam kemampuan membayar personel, mengisi kembali peralatan, dan mempertahankan operasi global.

Dampak finansial juga dirasakan konsumen AS melalui kenaikan biaya energi dan inflasi.

Menurut Brown University Iran War Energy Cost Tracker, warga AS membayar lebih dari $72 miliar dalam biaya bahan bakar tambahan hingga 22 Juli, rata-rata $549 per rumah tangga.

>>> Anggota DPR dan Pakar Desak Regulasi AI Setelah Insiden OpenAI

Center for American Progress melaporkan harga konsumen pada Mei naik 4,2 persen.